Emang Iya?
Aku ingin menjadi baik. Entah baik menurut siapa. Aku tidak punya referensi. Tidak punya nama-nama asing atau barat di pikiranku. Apakah itu filsuf, penyair, sastrawan, adegan film, lagu klasik, lagu jazz, baik itu dari belahan Eropa atau Amerika yang bisa kusebutkan di tulisan ini. Apakah ini berarti aku fakir miskin dalam hal referensi? Atau mungkin tidak memunyai pengetahuan cukup luas untuk mendefinisikan tentang kata baik, tentang hal-hal baik. Bila begitu apakah aku tidak boleh mendefinisikannya? Apakah bila aku mendefinisikannya, orang-orang yang menyimak akan menyebut apa yang aku definisikan itu sesuatu yang keliru, yang tidak layak dibaca, atau bahkan dituliskan?
Aku ingin mengerti puisi. Hujan di luar warung kopi ini cukup deras, hanya ada 5 orang pengunjung yang mampir di sini termasuk aku. Beberapa dari mereka adalah driver ojol. Entah apakah mereka mengerti puisi atau tidak. Atau entah pula apakah mereka memiliki referensi atau pandangan tentang puisi berdasarkan filsuf, penyair, sastrawan, dari Eropa atau Amerika. Aku malas menanyakan hal itu. Aku pun ingin coba mendefinisikan puisi tetapi ya itu tadi, aku tidak mampu mengutip dan menyebutkan nama-nama barat, film-film barat, lagu-lagu klasik atau jazz. Aku hanya heran apakah menulis secara akademis harus menyebutkan nama-nama orang barat, film barat, musik klasik, musik jazz? Harus ya? Biar berbobot dan layak baca ya?
Ketika kamu menyelami puisi seseorang, dan ingin menuliskan pembacaanmu yang dalam terhadap puisi itu, apakah harus berbelok jauh ke perkataan para filsuf, lirik-lirik puisi penyair Eropa, Amerika, atau apapun yang bukan Indonesia. Bukan berarti aku membicarakan nasionalisme di sini, tetapi bagaimana kata-kata asli dari pikiranmu yang berbicara di dalam tulisanmu. Seperti saat ini, terdengar lagu disko semi koplo dangdut dari meja seberang, driver ojol yang lagi ngopi itu pasti sedang nyimak video dari tiktok, bagiku itu cukup puitis dan realistis, bisa juga sebuah metafora untuk hujan angin yang semakin deras di luar warung kopi ini.
Ya, aku hanya bisa berkata, menulis itu cukup dari hati, tuliskan saja sesuai kapasitas perasaan yang sedang berlaku di dirimu. Aku pasti mengatakan hal ini bila ada yang bertanya, gimana sih cara menuliskan puisi itu. Meskipun mungkin misalnya aku berbicara pada sebuah seminar atau pelatihan menulis puisi, dibayar oleh panitia, dan pesertanya mendapatkan goodie bag. Aku rasa aku tak perlu tahu bagaimana para peserta itu bereaksi di pikiran mereka dengan apa yang aku katakan. Bagaimana mereka jauh-jauh datang dan menyempatkan waktu untuk hadir ya itu urusan mereka. Aku akan tetap berbicara meski yang menyimakku hanya bangku kosong di ruangan, itu sangat puitis bukan? Bahkan menyimpan metafora pula. Mengapa pusing dengan pandangan orang tentangmu? Mengapa khawatir dirimu tidak dianggap baik? Karena definisi baik pun beragam di banyak pandangan pikiran orang.
Apakah kemudian aku ini terlihat tolol menuliskan seperti ini? Jika aku tolol ya gimana ya, ketololan itu juga sangat puitis, sama puitisnya dengan keinginan untuk duduk di kursi pejabat dewan kesenian kota. Berusaha terlihat pintar, terlihat paling nyeni, paling nyastra, paling berpengetahuan luas tentang apapun. Tetapi menjadi tolol itu pun sesungguhnya sangatlah cerdas, sangat nyeni, sangat nyastra, sangat luas sebagai jiwa. Nah jadi belok ke masalah jiwa, boleh nggak sih? Ketika orang menyebutmu tolol, goblok, bego, apakah kau harus merasa baper? Hehe, aku jadi ingat apa yang dikatakan Ahmad Dhani di podcastnya Vincent-Desta, kalau dia tidak pernah marah bila ada orang yang menyebutnya seperti itu, toh dia tidak merasa begitu, dan orang yang menyebutnya tolol, goblok, bego, itu mereka tidak mengenal baik secara keseharian dengannya.
Balik ke puisi, puisi yang baik menurutku ya yang membuatmu nyaman ketika menuliskannya atau mensharenya secara publik, entah di medsos, di media berita online, atau dibukukan. Ini menurutku sih, bukan menurut seperti atau sesuai perkataan seorang penyair yang katanya senior di status facebooknya, yang merasa paling mengerti puisi, paling panjang perjalanannya menuliskan puisi dan menjadi senior di kepenulisan puisi. Kan, pikiran dan perasaanmu bukan milik senior itu. Kamu yang tahu sendiri kamu harus menulis puisi seperti apa, kamu yang punya hak untuk mengupload puisimu di media sosial apapun, toh para pembuat aplikasi media sosial itu tidak melarang untukmu menguploadnya, melikenya sendiri, tertawa sendiri, mengapresiasi sendiri, salahnya di mana? Di zaman terbuka seperti ini, puisi bukan lagi yang hanya secara seremonial dirayakan di panggung sebuah gedung teater, di dalam diskusi sastra, di sebuah buku antologi, di media berita ternama. Aku malah sering melihat anak-anak muda merayakan puisi dengan caranya sendiri, entah di kafe, di live streaming youtube, di kumpulan kecil yang berdiskusi di sebuah taman, menuliskannya di dinding toilet, dan masih banyak lagi. Hehe, absurd ya tulisan ini, atau kacau? Ya gimana ya, hidup sudah ribet sih.
wt26okt2025

Komentar
Posting Komentar