Wayang Universe Sekolah Global Mandiri: Ksatria Pringgondani
![]() |
Senang sekali dapat menyaksikan Pertunjukan Teater yang mengangkat cerita pewayangan dan disesuaikan dengan nuansa zaman kekinian. Lebih kerennya lagi pertunjukan tersebut ditampilkan oleh 415 siswa-siswi Sekolah Global Mandiri Cibubur, maka jadilah pertunjukan bertajuk KSATRIA PRINGGONDANI, yang digelar pada Sabtu sore, 15 Juni 2024 di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki tersebut terlihat sangat kolosal. Semua penampil yang mayoritas anak-anak usia 6 -12 tahun tersebut terlihat totalitas dengan kepolosan masing-masing. Dari mulai MC, dalang, penari, penyanyi, hingga para pemain, mampu mengundang decak kagum para audiens yang hadir, baik itu para guru, orang tua, perwakilan instansi pemerintahan, pegiat seni dan tamu undangan lainnya.
Tak tanggung-tanggung pihak Sekolah Global Mandiri Cibubur menggandeng beberapa pihak untuk berkolaborasi seperti Wayang Orang Bharata, Karawitan Bharata, Jakarta E'Music serta banyak sponsor, dua di antaranya adalah Pertamina dan BMW Performance Motors. Sedangkan naskah dan penyutradaraan pertunjukan ini secara khusus ditangani sangat apik oleh Sang Wakil Kepala Sekolah, Yudi Wahyudi S.pd. Begitu detail yang tersaji di atas panggung mulai dari tata cahaya, tata musik dan suara, kostum, koreografi, properti, blocking para pemain yang mampu memanfaatkan luas panggung, hingga alur cerita yang menyelipkan nuansa zaman kekinian seperti kecenderungan kesukaan generasi sekarang terhadap konten tiktok, atau musik dan dance Korea. Saya membayangkan seberapa banyak tim panitia yang memanage mereka di belakang panggung, mengarahkan dan menjaga mood para pemain yang masih anak-anak untuk tetap excited tampil pada pertunjukkan yang berlangsung hampir 4 jam tersebut (sekitar 15.00 sampai 19.00 Wib).
Kisah yang diadaptasi dari epos Mahabharata itu mengambil penggalan cerita klasik saat pihak Pandawa yang bertahta di Kerajaan Indraprasthanya dan pihak Kurawa yang bertahta di Kerajaan Hastinapura tengah bersiap menghadapi Perang besar Bharatayudha di medan kurusetra. Di hari-hari menjelang perang tersebut pihak Pandawa membutuhkan kehadiran Gatot Kaca, putra dari Bimasena dan Arimbi yang bertahta di Kerajaan Pringgondani. Gatot Kaca yang terkenal sakti mandraguna dengan predikat tersemat pada dirinya yaitu Ksatria berotot kawat, bertulang besi tengah bertapa di sebuah hutan dekat kerajaannya saat para punakawan yang dipimpin lurah Semar datang diutus oleh Prabu Yudistira untuk memberi kabar tentang perang besar yang akan segera terjadi antara Pandawa dan Kurawa. Saat akhirnya Gatot Kaca ikut berperang mengobrak-abrik pertahanan pasukan Kurawa, ia harus berhadapan dengan Adipati Karna, kakak tertua Pandawa yang memihak pihak Kurawa karena balas budi atas kebaikan Duryudana yang mengangkat derajatnya ke tempat terhormat, setelah sebelumnya selalu dihina para Pandawa sebagai anak Kusir. Pandawa sendiri tidak mengetahui bahwa Adipati Karna adalah kakak tertua mereka. Gatot Kaca akhirnya gugur di tangan Adipati Karna yang melepaskan senjata sakti panah Konta untuk menghentikan kedigjayaannya.
Selipan-selipan nuansa kekinian begitu rapih disajikan dalam alur cerita tersebut dan mengundang gelak tawa para audiens, sepertinya inilah cara sang sutradara serta keinginan dari para penggagas acara ini agar para siswa tidak merasa berat mencerna kisah legenda tersebut. Anak-anak generasi sekarang memang lebih akrab dengan karakter-karakter tokoh superhero dari Universe Marvel, DC atau karakter-karakter tokoh pada game Mobil Legends, Free Fire, Roblox dan lain sebagainya. Belum lagi konten-konten di Tiktok, You Tube, drama Korea dan lain-lain. Dengan pergelaran ini mereka berkenalan berbagai karakter tokoh dari Wayang Universe, dan bukan saja sekadar tahu tapi memerankan serta masuk dalam alur cerita, sungguh usaha luar biasa dari jajaran pendidik Sekolah Global Mandiri yang patut diapresiasi. Beberapa adegan sangat pecah dan di luar ekspektasi para audiens, seperti saat para petinggi pihak Kurawa bermain golf dengan para caddy golf yang memperkenalkan Kurawa Lovers pada konten tiktok beserta kehadiran Kurawa Dancers sebagai penyemangat para Kurawa, kemudian saat Prabu Yudhistira membujuk Drupadi dengan setangkai bunga, satu buket bunga dan boneka Teddy bear berukuran besar, namun semua ditolak, akhirnya Drupadi baru luluh saat sang raja mengeluarkan jurus andalan, yaitu segepok uang dari dompet hitamnya, hahaha. Tetapi salah satu adegan terbaik yaitu saat sosok Gatot Kaca muncul dari bawah lantai panggung yang naik secara otomatis dalam keadaan bersemedi, lalu panggung diliputi asap putih, Sang Ksatria Pringgondani itu tetap khusuk bersemedi walau digoda banyak makhluk. Di situlah aura kewibawaan dari Gatot Kaca sangat kuat terpancar meskipun yang memerankannya seorang anak kecil, seperti spirit sang tokoh itu merasuk dan begitu elegan dalam balutan khas kostum Gatot Kaca. Secara kemasan pertunjukan ini sangat keren, mungkin yang sedikit mengganggu adalah kondisi lantai panggung yang bila terlihat dari atas itu kotor dan bergaris-garis besar (karena saya menyimak dari balkon di lantai tiga, hehehe), bila mungkin ditutupi oleh karpet hitam maka terlihat lebih rapih, entah hal ini lupa terpikirkan oleh panitia atau pihak pengelola Graha Bakti Budaya.
Namun saya cukup berbahagia menyaksikan pertunjukan ini terlebih saya familiar dengan Wayang Universe sejak kecil, dari cerita kedua almarhum nenek saya, almarhum ibu, cerita bergambar di koran pos kota, cerita bergambar asli terjemahan dari Mahabharata versi India, cerpen dan novel pewayangan, pertunjukan wayang golek Sunda, wayang kulit Jawa, pertunjukan wayang orang di TVRI, berbagai drama televisi India yang mengangkat kisah-kisah Mahabharata, Ramayana, Krishna dan lain-lain, sampai dahulu di media 90 an sering menyambangi lantai 7 Pasaraya Blok M kalau nggak salah hanya untuk melihat lihat berbagai bentuk dan ukuran wayang golek dan wayang kulit yang dipajang untuk dijual. Jadi saya sangat mengapresiasi apa yang digagas oleh Sekolah Global Mandiri ini, sebagai usaha melestarikan kisah pewayangan atau wayang universe kepada generasi sekarang sejak dini. Salut!
Wahyu Toveng
17 Juni 2024




Komentar
Posting Komentar