Postingan

Workshop Lebih Dekat Dengan Puisi: Kolaborasi SD Global Mandiri, Komunitas Literasi Betawi, Ruang Puisi Kita

Gambar
  Bagaimanakah puisi dapat menggugah daya kreatifitas anak-anak usia sekolah dasar? Bukan semata sekumpulan kata-kata remeh, sambil lalu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Melainkan menyentuh batin mereka dan sekaligus memicu intuisi seni. Mungkin sesaat menyimak tatapan mereka saat diperkenalkan kepada puisi dengan barisan kata-kata yang tak biasa, mereka seolah tengah dibacakan sebaris mantra. Untuk kemudian mereka mulai memasuki alur, merasakan degup tersendiri dari susunan kata per kata, kalimat per kalimat dalam puisi. SD Global Mandiri Cibubur yang berlokasi di kompleks perumahan Legenda Wisata Cibubur, mengadakan Workshop bertajuk "Lebih Dekat Dengan Puisi" bagi siswa Kelas 5 mereka pada Senin 20 April 2026 lalu. Dalam kegiatan itu pihak sekolah berkolaborasi dengan dua komunitas yakni, Komunitas Literasi Betawi dan Ruang Puisi Kita, untuk memberikan materi terkait pembacaan puisi, dramatisasi puisi, dan musikalisasi puisi. Dr. Anna Budiatmi, MPd, selaku Kepala S...

Puisi-Puisi Pemenang Event Cipta Puisi Dwi Bulanan Grup FB Komunitas Literasi Betawi Edisi Februari - Maret 2026

Gambar
  Puisi-Puisi Pemenang Event Cipta Puisi Dwi Bulanan Grup FB Komunitas Literasi Betawi Februari-Maret 2026: 1. MENCATAT FITRAH PUASA DALAM PUISI Karya: Arnita 2. EPIFANI MUARA RAMADAN Karya: Rissa Churria 3. DI ANTARA PUISI DAN PUASA Karya: Mira Devoncho 4. ANTARA RAMADAN DAN SYAWAL Karya: Safri Naldi ( Aru ZA ) 5. FITRAH DI UJUNG RINDU Karya: Evie Aulia Nirwana Purie MENCATAT FITRAH PUASA DALAM PUISI Karya: Arnita Ia adalah waktu Yang membentuk rumus-rumus rahasia, senantiasa membawa kita untuk menziarahi jiwa di antara sebelas bulan yang pucat, kemudian orang-orang mencari suara untuk kembali ke titik nol di sela usia yang semakin renta. Puasa ini mencatat puisi dalam tubuh waktu melahirkan tafsir kata-kata. Berlaksa mimpi menyelusup ke setiap rongga ingatan dan denyut nadi. Tapi kisah enggan berakhir, semua menitipkan pesannya pada lipatan takdir. Tidak ada yang lebih puitis selain hening puncak doa dan luhur kemenangan pada ketaatan jiwa. Diri yang muhasabah,...

Mengulas Puisi The Starry Night (Malam Berbintang) Karya Anne Sexton

Gambar
Anne Sexton dan Lukisan The Starry Night karya: Vincent Van Gogh Puisi karya Anne Sexton yang berjudul " The Starry Night " adalah respons terhadap lukisan cat minyak ikonik karya Vincent van Gogh yang berjudul sama, "The Starry Night" (1889). Puisi ini masuk dalam jenis Puisi Ekfrastik, yaitu puisi yang ditulis karena terinspirasi oleh karya seni visual seperti lukisan, patung, film, lagu, dan lain-lain. Anne Sexton sendiri merupakan seorang perempuan penyair Amerika Serikat yang lahir pada 9 November 1928 dan meninggal 4 Oktober 1974. Anne dikenal karena puisi- puisinya yang sangat personal dan bersifat pengakuan. Ia memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk puisi pada tahun 1967 untuk bukunya  Live or Die . Puisi-puisinya merinci perjuangan panjangnya melawan gangguan bipolar, kecenderungan bunuh diri, dan detail intim dari kehidupan pribadinya.  Sedangkan Puisi "The Starry Night" menggambarkan keinginan sang penyair untuk mati dan bersatu dengan alam seme...

Tahun Selalu Berganti, Kasih Ibu Selalu Abadi

Gambar
TAHUN SELALU BERGANTI, KASIH IBU SELALU ABADI (Latar Belakang Tema Event Cipta Puisi Bulanan Grup FB KLB Desember 2025) Sesaat lagi tahun 2025 segera berakhir, dan kita akan memasuki tahun 2026. Pergantian tahun sendiri adalah penanda waktu bagi manusia untuk dapat mengatur alur kehidupannya. Seperti pepatah yang disampaikan oleh Imam Syafi'i bahwa "waktu adalah pedang," yang mengandung arti jika waktu tidak dipergunakan dengan baik, maka waktu akan menebas kita dan kita menjadi merugi. Di moment pergantian tahun pula, banyak orang kemudian melakukan kilas balik terhadap apa saja yang telah tercapai dan belum terwujud pada rentang waktu setahun kemarin, serta menentukan sendiri resolusi terbaik apa saja untuk satu tahun ke depan. Perubahan tentu saja tak dapat dilawan, seperti roda berputar yang terus bergerak maju, siapa yang tak siap maka pasti tergerus atau terlindas oleh perubahan. Seperti yang diungkapkan Gail Sheehy, seorang perempuan penulis Amerika bahwa, ...

Sumur Tanpa Dasar Pada Karya Puisi Iwan Setiawan: Titik Yang Menolak Cahaya

Gambar
TITIK YANG MENOLAK CAHAYA Malam mengiris lidahku, membuang nama yang tak mau sujud. Di balik tulang, ada doa yang memberontak menjadi bayang tanpa tuan. Aku menyalakan sunyi hingga tubuhku runtuh dan dari reruntuhan itu, cahaya pun takut lahir. --- Judul puisi karya mas Iwan Setiawan ini adalah "Titik Yang Menolak Cahaya," sebaris judul yang sepertinya justru menciptakan jeda koma ketika menyimaknya. Kata "Titik" secara harfiah makna utamanya adalah tanda baca penutup pada setiap akhir kalimat, atau bentuk bundaran yang sangat kecil. Namun kemudian diksi tersebut dirangkai dengan frasa, "Yang Menolak Cahaya," sejumlah pertanyaan lalu menggelitik, titik seperti apa yang menolak cahaya? Apakah titik itu seperti obyek yang dilihat dari jauh, sehingga ukurannya mengecil menyerupai titik-titik? Atau titik itu adalah simbolik dari akhir suatu kondisi? Jika memang demikian, apakah dapat ditafsirkan sebagai akhir yang menolak berakhir? Diksi ...

Emang Iya?

Gambar
Aku ingin menjadi baik. Entah baik menurut siapa. Aku tidak punya referensi. Tidak punya nama-nama asing atau barat di pikiranku. Apakah itu filsuf, penyair, sastrawan, adegan film, lagu klasik, lagu jazz, baik itu dari belahan Eropa atau Amerika yang bisa kusebutkan di tulisan ini. Apakah ini berarti aku fakir miskin dalam hal referensi? Atau mungkin tidak memunyai pengetahuan cukup luas untuk mendefinisikan tentang kata baik, tentang hal-hal baik. Bila begitu apakah aku tidak boleh mendefinisikannya? Apakah bila aku mendefinisikannya, orang-orang yang menyimak akan menyebut apa yang aku definisikan itu sesuatu yang keliru, yang tidak layak dibaca, atau bahkan dituliskan? Aku ingin mengerti puisi. Hujan di luar warung kopi ini cukup deras, hanya ada 5 orang pengunjung yang mampir di sini termasuk aku. Beberapa dari mereka adalah driver ojol. Entah apakah mereka mengerti puisi atau tidak. Atau entah pula apakah mereka memiliki referensi atau pandangan tentang puisi berdasarkan filsu...

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025

Gambar
  Sam Mukhtar Chaniago (Ketua KLB), Yahya Andi Saputra (Pembina KLB), Piet Yuliakhansa (Admin KLB) berpose di depan stand KLB / Foto: Koleksi Pribadi kataberanda, 24 Oktober 2025, Komunitas Literasi Betawi (KLB) yang didirikan oleh Tuti Tarwiyah Adi dan diketuai oleh Sam Mukhtar Chan, ikut terpilih bersama 16 Komunitas lainnya sebagai partisipan pada Pameran Komunitas Sastra dan Literasi di Festival Sastra HB Jassin 2025 yang digelar di Selasar Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 17-18 Oktober 2025 kemarin. KLB menempati satu di antara 17 tenda stand pameran untuk memamerkan berbagai karya dan kiprahnya, yang selama ini telah dilakukan di dunia sastra dan literasi di seputaran Jabodetabek dan nasional. Tampak sejumlah buku antologi puisi bersama, bertemakan Jakarta dan Betawi yang pernah digagas sejak komunitas ini berdiri pada 2020, dipamerkan berdampingan dengan beberapa judul antologi puisi tunggal karya Sam Mukhtar Chan (Ketua KLB) dan Irawan Sandhya Wiraatmaja (Pembina KL...

Adab Dulu Baru Ilmu

Gambar
  Ada dua kasus viral yang terjadi di dunia pendidikan baru-baru ini dan sangat menarik perhatian publik negeri. Kasus pertama adalah tentang tayangan pada sebuah program di satu televisi swasta dengan topik bahasan tradisi di pesantren yang seolah dianggap terlalu berlebihan dengan memperlihatkan peristiwa saat para santri di suatu pesantren mencium tangan seorang Ustaz pengajar sambil memberikan amplop. Gambar lainnya menampilkan saat para santri harus berjalan jongkok menghampiri seorang Kiai pengasuh pondok, mencium tangannya sambil memberikan amplop. Adab dan akhlak para santri di pesantren itu sangat menghormati sosok para Kiai dan Ustaz yang mengajarkan serta mendidik mereka. Mereka berjalan jongkok, mencium tangannya, dan memberikan amplop, itu hanyalah sebuah didikan simbolik sarat filosofis. Justru di situlah didikan adab dan akhlak kepada sosok yang mengajarkan ilmu ditanamkan. Dalam hal ini, Kiai, Ustaz, atau Guru, adalah sosok Orang Tua di pesantren tempat mereka men...

Puisi-Puisi Arnita

Gambar
SEPTEMBER TAHUN INI Di sepanjang usiaku Berkas-berkas masih tertumpuk Aku menyebutnya sebagai kisah romantisme kita, Sayang Tidak ada nota pembelian, transaksi dan persyaratan untuk bisa pentas di panggung yang selalu mereka gelar Meski di balik layar, semua masih terawat dengan rapi tanpa harus menyertakan persetujuan dari ribuan tangan Sayang, September ini usianya masih belia, ia menjadi sebuah ikatan kuat yang mampu menerobos dimensional, setiap alur menjadikan aksesibilitas warna warni, tidak usah risau semua tetap berwarna meski sesekali mengabu Bukankah itu yang mengajari kita untuk menggenggam tangan lebih erat September hari ini, kita saling menukar mimpi dan doa-doa Tidak perlu perayaan hebat karena semesta masih menyimpan sejuta rahasianya untuk kita pahami alur skenario Mari duduk bersamaku, esok adalah hari yang akan kita simpan ceritanya.  22 September 2025. Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi SERUAN PERDAMAIAN Kau tahu Aku berkali-kali tersesat di tubuh ...

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Gambar
  Puisi-Puisi Dzakwan Ali Berteman Bayang masa kelam orang tuaku dikepung di tengah ruang sunyi rombongan mengusik kedamaian kami melempar segala kebencian bertubi-tubi semenjak kedatangan mengincar bersembunyi di balik layar persahabatan menyeret ke gerbang ketidakadilan agama minoritas hidupnya penuh cemas ganas berinteraksi dijadikan caci maki ikut gotong royong, mereka merongrong ruang-ruang kebebasan disita merampas segala rupa titik balik semuanya aku belajar memahami kondisi dan situasi lingkungan tempatku menimba perbedaan berteman dengan masa lalu menyuarakan kebenaran melalui catatan puisi Purwakarta, 29 September 2025 Ilustrasi: Meta AI Melangkahi Trauma waktuku terbagi dalam ruang gersang masa anak-anak sering kali terkurung bayang sedangkan di luar sana memanggil-manggil hak proses mengenal jati diri aku dihajar keadaan sebab ekonomi, awal pelampiasan setiap kali menagih harapan seolah aku menjadi budak dari produk kekerasan perih pedih memang merintih sekaligu...