Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Emang Iya?

Gambar
Aku ingin menjadi baik. Entah baik menurut siapa. Aku tidak punya referensi. Tidak punya nama-nama asing atau barat di pikiranku. Apakah itu filsuf, penyair, sastrawan, adegan film, lagu klasik, lagu jazz, baik itu dari belahan Eropa atau Amerika yang bisa kusebutkan di tulisan ini. Apakah ini berarti aku fakir miskin dalam hal referensi? Atau mungkin tidak memunyai pengetahuan cukup luas untuk mendefinisikan tentang kata baik, tentang hal-hal baik. Bila begitu apakah aku tidak boleh mendefinisikannya? Apakah bila aku mendefinisikannya, orang-orang yang menyimak akan menyebut apa yang aku definisikan itu sesuatu yang keliru, yang tidak layak dibaca, atau bahkan dituliskan? Aku ingin mengerti puisi. Hujan di luar warung kopi ini cukup deras, hanya ada 5 orang pengunjung yang mampir di sini termasuk aku. Beberapa dari mereka adalah driver ojol. Entah apakah mereka mengerti puisi atau tidak. Atau entah pula apakah mereka memiliki referensi atau pandangan tentang puisi berdasarkan filsu...

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025

Gambar
  Sam Mukhtar Chaniago (Ketua KLB), Yahya Andi Saputra (Pembina KLB), Piet Yuliakhansa (Admin KLB) berpose di depan stand KLB / Foto: Koleksi Pribadi kataberanda, 24 Oktober 2025, Komunitas Literasi Betawi (KLB) yang didirikan oleh Tuti Tarwiyah Adi dan diketuai oleh Sam Mukhtar Chan, ikut terpilih bersama 16 Komunitas lainnya sebagai partisipan pada Pameran Komunitas Sastra dan Literasi di Festival Sastra HB Jassin 2025 yang digelar di Selasar Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 17-18 Oktober 2025 kemarin. KLB menempati satu di antara 17 tenda stand pameran untuk memamerkan berbagai karya dan kiprahnya, yang selama ini telah dilakukan di dunia sastra dan literasi di seputaran Jabodetabek dan nasional. Tampak sejumlah buku antologi puisi bersama, bertemakan Jakarta dan Betawi yang pernah digagas sejak komunitas ini berdiri pada 2020, dipamerkan berdampingan dengan beberapa judul antologi puisi tunggal karya Sam Mukhtar Chan (Ketua KLB) dan Irawan Sandhya Wiraatmaja (Pembina KL...

Adab Dulu Baru Ilmu

Gambar
  Ada dua kasus viral yang terjadi di dunia pendidikan baru-baru ini dan sangat menarik perhatian publik negeri. Kasus pertama adalah tentang tayangan pada sebuah program di satu televisi swasta dengan topik bahasan tradisi di pesantren yang seolah dianggap terlalu berlebihan dengan memperlihatkan peristiwa saat para santri di suatu pesantren mencium tangan seorang Ustaz pengajar sambil memberikan amplop. Gambar lainnya menampilkan saat para santri harus berjalan jongkok menghampiri seorang Kiai pengasuh pondok, mencium tangannya sambil memberikan amplop. Adab dan akhlak para santri di pesantren itu sangat menghormati sosok para Kiai dan Ustaz yang mengajarkan serta mendidik mereka. Mereka berjalan jongkok, mencium tangannya, dan memberikan amplop, itu hanyalah sebuah didikan simbolik sarat filosofis. Justru di situlah didikan adab dan akhlak kepada sosok yang mengajarkan ilmu ditanamkan. Dalam hal ini, Kiai, Ustaz, atau Guru, adalah sosok Orang Tua di pesantren tempat mereka men...

Puisi-Puisi Arnita

Gambar
SEPTEMBER TAHUN INI Di sepanjang usiaku Berkas-berkas masih tertumpuk Aku menyebutnya sebagai kisah romantisme kita, Sayang Tidak ada nota pembelian, transaksi dan persyaratan untuk bisa pentas di panggung yang selalu mereka gelar Meski di balik layar, semua masih terawat dengan rapi tanpa harus menyertakan persetujuan dari ribuan tangan Sayang, September ini usianya masih belia, ia menjadi sebuah ikatan kuat yang mampu menerobos dimensional, setiap alur menjadikan aksesibilitas warna warni, tidak usah risau semua tetap berwarna meski sesekali mengabu Bukankah itu yang mengajari kita untuk menggenggam tangan lebih erat September hari ini, kita saling menukar mimpi dan doa-doa Tidak perlu perayaan hebat karena semesta masih menyimpan sejuta rahasianya untuk kita pahami alur skenario Mari duduk bersamaku, esok adalah hari yang akan kita simpan ceritanya.  22 September 2025. Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi SERUAN PERDAMAIAN Kau tahu Aku berkali-kali tersesat di tubuh ...

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Gambar
  Puisi-Puisi Dzakwan Ali Berteman Bayang masa kelam orang tuaku dikepung di tengah ruang sunyi rombongan mengusik kedamaian kami melempar segala kebencian bertubi-tubi semenjak kedatangan mengincar bersembunyi di balik layar persahabatan menyeret ke gerbang ketidakadilan agama minoritas hidupnya penuh cemas ganas berinteraksi dijadikan caci maki ikut gotong royong, mereka merongrong ruang-ruang kebebasan disita merampas segala rupa titik balik semuanya aku belajar memahami kondisi dan situasi lingkungan tempatku menimba perbedaan berteman dengan masa lalu menyuarakan kebenaran melalui catatan puisi Purwakarta, 29 September 2025 Ilustrasi: Meta AI Melangkahi Trauma waktuku terbagi dalam ruang gersang masa anak-anak sering kali terkurung bayang sedangkan di luar sana memanggil-manggil hak proses mengenal jati diri aku dihajar keadaan sebab ekonomi, awal pelampiasan setiap kali menagih harapan seolah aku menjadi budak dari produk kekerasan perih pedih memang merintih sekaligu...