Adab Dulu Baru Ilmu

 


Ada dua kasus viral yang terjadi di dunia pendidikan baru-baru ini dan sangat menarik perhatian publik negeri.

Kasus pertama adalah tentang tayangan pada sebuah program di satu televisi swasta dengan topik bahasan tradisi di pesantren yang seolah dianggap terlalu berlebihan dengan memperlihatkan peristiwa saat para santri di suatu pesantren mencium tangan seorang Ustaz pengajar sambil memberikan amplop. Gambar lainnya menampilkan saat para santri harus berjalan jongkok menghampiri seorang Kiai pengasuh pondok, mencium tangannya sambil memberikan amplop.

Adab dan akhlak para santri di pesantren itu sangat menghormati sosok para Kiai dan Ustaz yang mengajarkan serta mendidik mereka. Mereka berjalan jongkok, mencium tangannya, dan memberikan amplop, itu hanyalah sebuah didikan simbolik sarat filosofis. Justru di situlah didikan adab dan akhlak kepada sosok yang mengajarkan ilmu ditanamkan. Dalam hal ini, Kiai, Ustaz, atau Guru, adalah sosok Orang Tua di pesantren tempat mereka menimba ilmu

Saat mereka kembali ke rumah kepada orang tua kandung masing-masing, maka adab dan akhlak itu terus tertanam dengan Ayah-Ibu mereka sebagai sosok yang harus dihormati, dicium tangannya, dan ditinggikan martabatnya. Bahkan adab dan akhlak untuk menghormati sosok yang lebih tua sesiapa pun itu secara tulus alamiah dapat langsung teraplikasikan sebagai kebiasaan sehari-hari tanpa keterpaksaan. 

Berjalan jongkok dan memberi amplop tadi hanyalah sebuah simbolik bahwa seorang yang lebih muda hendaknya lebih merendahkan diri mereka kepada orang yang lebih tua. Maksud merendahkan diri di sini bukan menghinakan diri sendiri, melainkan suatu sikap penuh adab penghormatan dan tanpa kesombongan kepada sosok yang telah mendidik mereka pada tempat mereka menimba ilmu, atau pada konteks hubungan darah keluarga adalah sosok Orang tua kandung yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan mereka. Kelak saat dewasa merekalah yang akan memberikan rezeki dan kebanggaan kepada orang tua, apakah itu berupa uang, harta, atau pun prestasi. 

Maka lihatlah ketika sosok Kiai, Ustaz dan adab di pesantren itu diusik dengan narasi-narasi hinaan kosong dan framing jahat stasiun televisi yang hanya mengekspos dari apa yang terlihat di permukaan saja tanpa telaah mendalam, justru yang membela adalah para Alumni dan Santri dari pesantren yang sosok Kiai dan Ustaznya terlihat dalam tayangan program televisi tersebut. Mereka memunyai rasa cinta mendalam terhadap sosok pengajar dan pendidik sekaligus orang tua yang telah memberikan banyak hikmah keilmuan untuk mereka.

Berbanding terbalik pada kasus yang lain, seorang murid melaporkan ke polisi seorang Kepala Sekolah tempatnya menimba ilmu hanya karena ditampar setelah kedapatan merokok, padahal itu jelas sebuah didikan dan penegakkan aturan yang dinaungi undang-undang. Oke, tindakan Kepala Sekolah tersebut dapat dianggap berlebihan di masa penjajahan algoritma seperti sekarang yang sangat sensitif, tapi respon dari murid yang ditampar dan orang tuanya, juga tindakan solidaritas seluruh siswa-siswa yang kemudian mogok belajar dengan tuntutan supaya sang Kepala Sekolah dipecat, hingga tindakan Kepala Daerah yang langsung menonaktifkan Kepala Sekolah, itu semua berlebihan.

Karena jelas merokok di area sekolah saat ini tidak dapat dibenarkan, jangankan murid, orang umum saja tidak dibenarkan merokok di area sekolah.

Dulu ketika saya bersekolah, saya dan teman-teman seusia sering menerima tindakan Guru yang dimaksudkan untuk menegur tindakan kami sebagai murid yang melanggar peraturan dan ketentuan di sekolah. Kadang sering dilempar penghapus ketika kedapatan berisik mengobrol saat Guru menerangkan materi pelajaran, lebih parah saat di STM kami pernah dilempari besi onderdil atau perkakas peralatan permesinan dari arah depan kelas. Kami sebagai murid sesaat diam, tapi tak lama malah cekikikan dan saling menyalahkan, tidak ada tuh berupaya melawan balik tindakan Guru kami. Pernah pula dijemur di bawah panas sinar matahari, dihukum berlari mengitari lapangan, disetrap di depan kelas dengan satu kaki terangkat sambil memegang kedua telinga, hingga membersihkan WC sekolah ketika datang terlambat atau lupa mengerjakan PR.

Juga pernah disabet penggaris kayu ketika kuku tangan terlihat panjang, rambut gondrong, pakaian seragam yang dikeluarkan dan tidak rapi, memanjat tembok sekolah untuk bolos atau terlibat tawuran, teman saya pernah tuh mengalami ditampar Kepala Sekolah saat ketahuan hal tersebut. Tapi tidak ada tuh tindakan kami untuk membalas tindakan para Guru yang dimaksudkan untuk menegur kami, kami menganggapnya itu sebuah penegakkan kedisiplinan dari Guru dan sekolah tempat kami menimba ilmu. Malah saat kemudian kami bertemu kembali dengan Guru kami saat reuni setelah dewasa, semua itu jadi cerita kenangan yang kami tertawakan bersama.

Secara tersirat ketika kedua kasus itu hadir hampir bersamaan dan viral, ada plot twist hikmah yang ditampakkan. Tayangan televisi yang menyoroti bagaimana tradisi menanamkan adab dan akhlak para santri di pesantren dalam memuliakan para Kiai dan Ustaz sebagai sosok pengajar seolah menjawab bagaimana ketiadaan atau kekurangan pendidikan adab dan akhlak di sekolah umum saat ini yang sangat jelas terlihat pada kasus Kepala Sekolah dilaporkan ke Polisi karena menampar murid yang merokok.

Saya sebagai orang tua, saat mengambil Raport anak saya pun sering memberikan amplop kepada Guru Wali Kelas anak saya dengan isinya yang tak seberapa, sekadar untuk mengapresiasi dan tanda terima kasih atas kinerja Guru yang menjadi Wali Kelas anak saya di sekolah. Saya lihat orang tua murid yang lain malah ada yang memberikan bingkisan lebih mewah dari apa yang saya berikan. Tidak diwajibkan sih, itu semua hanya kembali kepada keikhlasan.

Walau kita juga tidak bisa menutup mata untuk banyak kasus sebelumnya seperti, kasus pembulian,perundungan, aniaya, pelecehan, asusila, kesewenangan kebijakan yang terjadi di dunia pendidikan negeri ini, apakah itu di sekolah umum, kampus, hingga pesantren.


Wahyu Toveng / Okt 2025


Redaksi kataberanda menerima kiriman naskah puisi, cerpen, esai, liputan kegiatan seni budaya, dan lain-lain. 

Link pengiriman naskah: 
diksisemesta95@gmail.com

Link pencarian halaman blog:
kataberanda.blogspot.com












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025