Puisi-Puisi Arnita


SEPTEMBER TAHUN INI


Di sepanjang usiaku
Berkas-berkas masih tertumpuk
Aku menyebutnya sebagai kisah romantisme kita, Sayang
Tidak ada nota pembelian, transaksi dan persyaratan untuk bisa pentas di panggung yang selalu mereka gelar
Meski di balik layar, semua masih terawat dengan rapi tanpa harus menyertakan persetujuan dari ribuan tangan
Sayang, September ini usianya masih belia, ia menjadi sebuah ikatan kuat yang mampu menerobos dimensional, setiap alur menjadikan aksesibilitas warna warni, tidak usah risau semua tetap berwarna meski sesekali mengabu
Bukankah itu yang mengajari kita untuk menggenggam tangan lebih erat
September hari ini, kita saling menukar mimpi dan doa-doa
Tidak perlu perayaan hebat karena semesta masih menyimpan sejuta rahasianya untuk kita pahami alur skenario
Mari duduk bersamaku, esok adalah hari yang akan kita simpan ceritanya. 

22 September 2025.


Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

SERUAN PERDAMAIAN


Kau tahu
Aku berkali-kali tersesat di tubuh waktu
Menyaksikan kota-kota yang tidak pernah lelap menunjukkan alamat lengkap
Sementara kata-kata masih tersembunyi
Ia kehilangan banyak makna

Aku menemukan sajak tercecer di lengkung alis dan kelopak mata sebelum menyelesaikan mimpi yang tidak sempat didaur ulang
Dan malam ini kita kembali ke peradaban

Perdamaian bukan lahir dari sebuah luka
Lalu menjadi perumpamaan pikiran ganjil yang mencoba memecahkan teka teki hidup
Keimanan menjadi pondasi untuk menyalakan sulur-sulur cahaya yang menyinari kemurnian jiwa

Lantas di beranda ini
Banyak nyanyian gaduh memecahkan gendang telinga
Semua ingin didengar
Serupa merawat kesedihan dan mewarnai kemurungan
Namun perdamaian tidak harus menjadi pecah
Masih banyak isyarat alam yang diam-diam menciptakan sebuah rahasia.

Bandung, 2025



Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi


TIDAK ADA YANG PERLU DICEMASKAN


Ketika aku beranjak dewasa
Ibu memberikan kunci
Seraya mematahkan kayu-kayu lapuk untuk dimasukkan kedalam tungku harapan
Aku menggenggamnya erat
Kulihat keringat dan air mata menjadi danau di wajahnya
Perlahan aku tenggelam, mengenang jasa dan rupa
Dalam hitungan detik aku seperti anak ayam yang kehilangan induknya

Bu, doamu menembus langit
Senantiasa memberikan kedamaian
Meski tertatih, aku masih menyimpan kunci untuk membuka ruang yang kau ciptakan di dada yang tabah

Kita tidak butuh identitas
Bagaimana berdamai dengan diri sendiri
Bukankah ibu selalu mengajarkan cara berjalan di atas kerikil
Bukan perihal bertahan
Tapi berjuang menaklukkan kerasnya hidup

Tidak perlu cemas
Segala peristiwa sedang menukarkan kartu nasib
Kita hanya perlu membasuh luka
Ketika nanti kita bertemu
Akan aku ceritakan bahwa makna perdamaian hanya lahir dari tengadah tanganmu, Bu.

Bandung, 2025


Foto Arnita: Dokumentasi Pribadi

Bionarasi:

Arnita lahir di Bandung, Jurnalis, pengelola rumah tahfidz Baitussyukur, penyuka seni Artwork dan dunia Fotografi, Pemimpin Redaksi Media Jurnal Puisi Cinta, Redaktur Note Journey Magazine, ketua PAC (potography & Art Community), pernah bekerja di Majalah Migospecta International sebagai Executive Editor (wakil CEO), pernah menjadi Pemimpin Umum di Buletin Inshinecam, pernah bekerja di Majalah Homagi International sebagai Editor & Director. Tulisan-tulisannya telah dimuat di media cetak dan elektronik. Salah satu cerpen menjadi pemenang di Sayembara ESVA Malaysia 2020, cerpen dengan judul Kotaku Gelap; Apa Kabar Perempuan? Masuk Nominasi Anugerah Sastra Apajake 2023 kategori cerpen. Telah bergabung di 136 antologi bersama dan melahirkan dua buah antologi tunggal.



Redaksi kataberanda menerima kiriman naskah puisi, cerpen, esai, liputan kegiatan seni budaya, dan lain-lain. 

Link pengiriman naskah: 
diksisemesta95@gmail.com

Link pencarian halaman blog:
kataberanda.blogspot.com







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025