Mengulas Puisi The Starry Night (Malam Berbintang) Karya Anne Sexton

Anne Sexton dan Lukisan The Starry Night karya: Vincent Van Gogh

Puisi karya Anne Sexton yang berjudul "The Starry Night" adalah respons terhadap lukisan cat minyak ikonik karya Vincent van Gogh yang berjudul sama, "The Starry Night" (1889). Puisi ini masuk dalam jenis Puisi Ekfrastik, yaitu puisi yang ditulis karena terinspirasi oleh karya seni visual seperti lukisan, patung, film, lagu, dan lain-lain. Anne Sexton sendiri merupakan seorang perempuan penyair Amerika Serikat yang lahir pada 9 November 1928 dan meninggal 4 Oktober 1974. Anne dikenal karena puisi- puisinya yang sangat personal dan bersifat pengakuan. Ia memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk puisi pada tahun 1967 untuk bukunya Live or Die. Puisi-puisinya merinci perjuangan panjangnya melawan gangguan bipolar, kecenderungan bunuh diri, dan detail intim dari kehidupan pribadinya. 

Sedangkan Puisi "The Starry Night" menggambarkan keinginan sang penyair untuk mati dan bersatu dengan alam semesta yang digambarkan dalam lukisan tersebut.

Berikut ini versi asli puisi tersebut dalam bahasa Inggris,

The Starry Night
By Anne Sexton

That does not keep me from having a terrible need of—shall I say the word—religion. Then I go out at night to paint the stars.Vincent Van Gogh in a letter to his brother

The town does not exist
except where one black-haired tree slips
up like a drowned woman into the hot sky.
The town is silent. The night boils with eleven stars.   
Oh starry starry night! This is how
I want to die.

It moves. They are all alive.
Even the moon bulges in its orange irons   
to push children, like a god, from its eye.
The old unseen serpent swallows up the stars.   
Oh starry starry night! This is how   
I want to die:

into that rushing beast of the night,   
sucked up by that great dragon, to split   
from my life with no flag,
no belly,
no cry.

Terjemahan dalam versi bahasa Indonesia;

Malam Berbintang
Oleh Anne Sexton

Hal itu tidak menghalangi saya untuk memiliki kebutuhan yang sangat besar akan—bolehkah saya katakan—agama. Lalu saya pergi keluar di malam hari untuk melukis bintang-bintang. Vincent Van Gogh dalam suratnya kepada saudaranya

Kota itu tidak ada
kecuali di tempat satu pohon berambut hitam tumbang
seperti wanita tenggelam ke langit yang panas.
Kota itu sunyi. Malam mendidih dengan sebelas bintang.   
Oh malam berbintang! Beginilah caranya
Saya ingin mati.

Itu bergerak. Mereka semua hidup.
Bahkan bulan pun menggembung dengan besi jingganya   
untuk mendorong anak-anak, seperti dewa, dari matanya.
Ular tua yang tak terlihat menelan bintang-bintang.   
Oh malam berbintang! Beginilah caranya   
aku ingin mati:

ke dalam binatang buas malam yang bergegas itu,   
dihisap oleh naga besar itu, untuk membelah   
dari hidupku tanpa bendera,
tidak ada perut,
jangan menangis.

Hak Cipta: Anne Sexton, "The Starry Night" dari The Complete Poems of Anne Sexton (Boston: Houghton Mifflin, 1981). Hak Cipta © 1981 oleh Linda Gray Sexton dan Loring Conant, Jr. Dicetak ulang dengan izin Sterling Lord Literistic, Inc. Sumber: Puisi Lengkap Anne Sexton (Houghton Mifflin Harcourt, 1981)


Anne Sexton, foto dari Google

Ulasan Puisi "The Starry Night" ("Malam Berbintang") karya Anne Sexton

oleh: Wahyu Toveng

Puisi dibuka pada bait pertama dengan lirik yang mendeskripsikan ketiadaan wujud pada obyek spesifik, yakni "Kota." Penulis menyebutkan; "Kota itu tidak ada." Lirik pembuka itu dapat ditafsirkan bahwa obyek tersebut memang tidak pernah ada, tidak tertera di peta suatu negara, tidak diketahui oleh banyak orang, dan tidak pernah tertulis dalam arsip sejarah. Tafsiran lainnya adalah kota yang dimaksud sebenarnya ada, namun lengang tanpa aktifitas sedikit pun selayaknya sebuah kota. Sehingga manusia yang mendiaminya seperti kehilangan esensi denyut keberadaan dari tempat yang mereka diami. Apakah kelengangan aktifitas kota itu dikarenakan merebaknya wabah penyakit, atau mungkin kota itu mengalami kehancuran akibat peperangan dan bencana alam, yang menyebabkan seluruh penduduknya berlindung, mengungsi, hingga menyelamatkan diri.

Namun secara wajahnya yang kongkrit, kota tentunya selalu penuh dengan sejuta aktifitas dan kesibukan, kata "tidak ada" pada lirik pembuka itu mungkin pula hanya seperti menyiratkan kelengangan yang terjadi sesudah jam-jam sibuk perkotaan telah lewat, ketika para penghuni kota telah kembali ke rumah dan beristirahat untuk kembali mengumpulkan energi diri, agar besok dapat beraktifitas lagi dengan kondisi yang lebih bugar. Atau citraan lainnya, kota itu memang bernama "Tidak Ada," dan penulis merasa perlu untuk menyampaikan hal itu di awal lirik puisi ini.

Selanjutnya penulis merangkai lirik;
"kecuali di tempat satu pohon berambut hitam tumbang"

Kata "kecuali" di awal kalimat seperti mengungkapkan bahwa terdapat pengganti wujud dari "kota," atau masih ada dimensi lain yang tersisa dari ketidakadaan "kota." Wujud pengganti itu terangkai pada kiasan "pohon berambut hitam yang tumbang." Kata "kecuali" menyamarkan esensi keberadaan kota di puisi ini yang sebelumnya disebutkan tidak ada. Kota yang tidak berwujud kota, atau kota yang tersembunyi pada kiasan, "pohon berambut hitam yang tumbang."

Manusia kota terpaku dan terpacu oleh berbagai tuntutan aktifitas, persaingan untuk bertahan hidup dan memperoleh kehidupan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Mereka tidak lagi melihat keberadaan kota itu sekadar wujud fisiknya saja, seperti nama kota itu di peta, berita, kartu Identitas, atau papan nama instansi, ruas-ruas jalan, gedung-gedung tinggi, transportasi umum, dan lain-lain. Tapi yang tertanam di pikiran adalah bagaimana menjawab semua tuntutan yang terbebankan kepada mereka sebagai manusia kota. Mereka telah melebur dengan esensi kota itu sendiri. Mereka adalah kota, dan kota adalah mereka.

"Pohon" di lirik ini dapat diartikan sebagai simbolik dari tempat bernaung, berlindung, atau sebuah rumah. Diksi kongkrit ini kemudian disandingkan dengan, "berambut hitam tumbang" untuk membentuk frasa personifikasi. Wujud "Pohon" tentunya memiliki batang, dahan, ranting, dedaunan berwarna hijau, dan akar yang terbenam menghujam ke dalam tanah, tetapi pada lirik puisi ini "Pohon" dituliskan "berambut hitam" dan "tumbang."

Hal ini seperti citraan yang ingin dibangun oleh penulis, mungkin dalam keadaan malam yang remang, "Pohon" itu dedaunannya terlihat seperti "berambut hitam," karena keterbatasan cahaya untuk melihat. Sedangkan diksi "tumbang" menggambarkan kondisi dari "Pohon" yang tidak lagi berdiri tegak, setengah doyong atau rebah rubuh ke tanah dengan akar yang tercerabut.

Secara lengkap, frasa "pohon berambut hitam tumbang" memunyai simbolik, sebuah tempat bernaung yang tidak lagi memiliki fondasi untuk tegak berdiri memiliki daya di kehidupan perkotaan, bahkan ketika seisi kota itu tertidur dan beristirahat dari aktifitasnya, tempat bernaung itu tetap rapuh tak mampu bangkit melawan zaman yang terus berubah. Karena itu sejak awal penulis menihilkan keberadaan kota di puisi ini dengan lirik "Kota itu tidak ada," kerapuhan begitu kentara dalam citraan batin. Warna hitam yang identik dengan citraan penglihatan yang gelap dan diksi "tumbang" tentu saja menjelaskan nada getir dari kerapuhan di bait pertama puisi ini. Tetapi "kota" itu sendiri juga adalah tempat bernaung, manusia dengan berjuta ragam pemikiran, pohon-pohon yang terpisah jauh dari hutan, hewan-hewan yang menyesuaikan habitatnya, semua berada dalam lanskap bernaung kota.

seperti wanita tenggelam ke langit yang panas.
Kota itu sunyi. Malam mendidih dengan sebelas bintang.   

Pada larik lirik selanjutnya ini penulis menggunakan simile, "seperti wanita tenggelam ke langit yang panas," untuk menguatkan frasa personifikasi, "pohon berambut hitam tumbang," di larik lirik sebelumnya. "Pohon" dan "wanita" sama-sama sebagai simbol penjaga siklus kehidupan. Dari mereka sama-sama lahir tunas penerus. Memberi oksigen dan darah bagi nadi kehidupan, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Saat hutan penuh pepohonan penyerap air digunduli oleh pembalakan dan penebangan liar, maka mudah sekali tanah yang jenuh oleh air akan bergerak longsor membawa air dan lumpur yang meluluhlantakkan kehidupan manusia dalam sekejap.

"Wanita" itu lalu dikonotasikan "tenggelam ke langit yang panas," diksi tenggelam semestinya berhubungan dengan air, apakah itu sungai, laut, danau, kolam renang, atau banjir besar. Tetapi penulis mengkondisikannya "tenggelam ke langit yang panas," padahal judul puisi ini pun sudah terang benderang menyebut "Malam Berbintang." Bukankah kondisi "langit yang panas" itu identik dengan waktu siang cerah dengan matahari yang terik? Kondisi lainnya mungkin karena mendung menggantung namun tidak juga turun hujan yang membuat hawa udara terasa begitu gerah. Namun "langit yang panas" bisa jadi sebuah simbolik tentang level kehidupan yang semakin naik, namun penuh dengan segala aral, ujian, kata-kata penilaian, tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup, dan lain-lain. Dan "wanita" itu mungkin terobsesi atau terjebak pada ekpetasinya sendiri untuk berada di level "langit."

Penulis sepertinya sengaja membangun ketidakkonsistenan dalam berbagai diksi yang ia gunakan dalam puisinya. Ketika judul ia sematkan dengan frasa "Malam Berbintang," justru kemudian ada frasa "langit yang panas" dan metafora "malam mendidih" pada tubuh puisinya. "Malam Berbintang" identik dengan langit malam yang sangat cerah dan hawa udara yang sejuk, tetapi frasa "langit yang panas" dan "malam mendidih" adalah kontradiksi yang membatalkan suasana cerah dan sejuk itu sendiri. Begitu pula dengan "Kota itu tidak ada" di awal puisi yang sangat jelas menggambarkan ketiadaan wujud Kota, tetapi lalu hadir frasa "Kota itu sunyi" yang menjelaskan keberadaan wujud Kota di puisi ini dengan kondisi suasananya yaitu "sunyi."

"Malam mendidih dengan sebelas bintang," metafora ini seperti penjelasan yang lebih spesifik dari judul puisi "Malam Berbintang." Bila "mendidih" Itu identik dengan air yang tengah dimasak di atas kompor, mengapa yang disandingkan di lirik puisi ini adalah "malam," mengapa malam bisa mendidih? mengapa pula langit menjadi panas dan kota menjadi sunyi? sedangkan judul puisi ini, "Malam Berbintang."
Betapa citraan batin yang disiratkan begitu bergejolak serupa air mendidih yang dimasak pada wadah panci di atas kompor, sehingga "aku lirik" berkata "saya ingin mati," dan "aku ingin mati." Jadi sesudah "langit yang panas" kemudian dipertegas lagi oleh "malam mendidih dengan sebelas bintang," Frasa "sebelas bintang" ini mengingatkan pada kisah Nabi Yusuf As dengan sebelas saudaranya.

Jika "langit yang panas" itu bagai simbolik dari level kehidupan, bisa jadi "malam mendidih dengan sebelas bintang" adalah puncak kesempurnaan dari langit malam itu, karena di bait selanjutnya terdapat larik lirik "bulan menggembung dengan besi jingganya," sebuah penggambaran dari bulan purnama dan cahayanya, jadi langit "Malam" Itu selain dipenuhi oleh simbolik "sebelas bintang," juga oleh cahaya bulan purnama. Namun kesempurnaan malam itu hanya sempurna sebagai citraan indera penglihatan, secara citraan batin, ada jiwa yang tidak bahagia, tempat bernaung yang tumbang, wanita yang terobsesi oleh kesemuan level kehidupan, aku lirik yang berkata, "saya ingin mati," "aku ingin mati."

Itu bergerak. Mereka semua hidup.
Bahkan bulan pun menggembung dengan besi jingganya   
untuk mendorong anak-anak, seperti dewa, dari matanya.

Rangkaian larik lirik pada bait kedua ini tidak lagi memunculkan diksi "kota" seperti di bait pertama. Deskripsi "Itu bergerak" dan "mereka semua hidup," merupakan citraan indra penglihatan yang menyimpulkan secara ringkas kondisi di bait pertama. Kota memang menjadi sunyi tapi suasana langit malam begitu riuh, tidak oleh suara, melainkan oleh gemerlap bintang dan sinar bulan. Mereka membawa bahasa semesta tentang keindahan dan kedamaian.

Tetapi jiwa, hati, atau diri, si "aku lirik" tidak pada kondisi yang tersimak sedang merasakan kebahagiaan dalam suasana itu. Diksi tentang "mati" sangat mutlak untuk para pembaca puisi ini memvonis bahwa si "aku lirik" berada pada situasi ironi di "malam berbintang" itu. Tetapi keinginan si "aku lirik" ingin mati pada suasana penuh keindahan seperti itu juga dapat ditafsirkan sebagai sebuah cita-cita batin tentang akhir hidup yang tanpa rasa sakit dan penderitaan, mungkin pula ia sambil mengulas senyum ketika menghembuskan napas terakhir.

Beberapa metafora yang hadir adalah penggambaran secara surealis tentang kondisi "malam berbintang" yang cerah dengan "bulan" yang nampaknya sedang purnama pula, dituliskan sebagai "menggembung dengan besi jingganya." Sedangkan diksi "anak-anak" tentu saja tentang kepolosan dan kejujuran, "seperti dewa" terkait dengan keagungan dan kemahakuasaan. Sebuah kombinasi yang unik untuk memetaforakan esensi cahaya. Mereka semua hidup di dalam imaji si aku lirik, entah mengintimidasinya atau menciptakan jalan kecil yang tembus ke dimensi lain pada suasana malam.

Ular tua yang tak terlihat menelan bintang-bintang.   
Oh malam berbintang! Beginilah caranya   
aku ingin mati:

ke dalam binatang buas malam yang bergegas itu,   
dihisap oleh naga besar itu, untuk membelah   
dari hidupku tanpa bendera,
tidak ada perut,
jangan menangis.

Metafora "ular tua" sepertinya maksud lain untuk menggambarkan awan hitam mendung yang sangat mungkin tidak terlihat bila langit malam dihiasi bintang-bintang, ular tentunya adalah binatang yang termasuk berbahaya bagi manusia, menimbulkan kekhawatiran dan kewaspadaan bila bertemu. Ular tua seperti apa yang mampu menelan bintang-bintang? Bila bintang-bintang itu tertelan maka langit malam tidak lagi bermandi cahaya, tetapi ular tua itu tidak terlihat, tidak muncul malam itu. Dan aku lirik tetap "ingin mati," ingin tenggelam jauh ke lubuk esensi keindahan malam, meski hidup getir dan tempat bernaungnya tumbang. 

Tetapi refleksi kata-kata dapat pula membangun konstruksi penafsiran berbeda, "ular tua" itu memang menelan bintang-bintang, ia mengendap-endap tanpa diketahui, memadamkan cahaya langit, dan menginspirasi si "aku lirik" sebuah cara untuk mati yang menyenangkan baginya.

*****



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025