Workshop Lebih Dekat Dengan Puisi: Kolaborasi SD Global Mandiri, Komunitas Literasi Betawi, Ruang Puisi Kita


 







Bagaimanakah puisi dapat menggugah daya kreatifitas anak-anak usia sekolah dasar? Bukan semata sekumpulan kata-kata remeh, sambil lalu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Melainkan menyentuh batin mereka dan sekaligus memicu intuisi seni. Mungkin sesaat menyimak tatapan mereka saat diperkenalkan kepada puisi dengan barisan kata-kata yang tak biasa, mereka seolah tengah dibacakan sebaris mantra. Untuk kemudian mereka mulai memasuki alur, merasakan degup tersendiri dari susunan kata per kata, kalimat per kalimat dalam puisi.














SD Global Mandiri Cibubur yang berlokasi di kompleks perumahan Legenda Wisata Cibubur, mengadakan Workshop bertajuk "Lebih Dekat Dengan Puisi" bagi siswa Kelas 5 mereka pada Senin 20 April 2026 lalu. Dalam kegiatan itu pihak sekolah berkolaborasi dengan dua komunitas yakni, Komunitas Literasi Betawi dan Ruang Puisi Kita, untuk memberikan materi terkait pembacaan puisi, dramatisasi puisi, dan musikalisasi puisi.













Dr. Anna Budiatmi, MPd, selaku Kepala Sekolah SD Global Mandiri Cibubur dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan Workshop ini merupakan salah satu rangkaian program P8 mereka yaitu, Teatrikal Puisi, "Simfoni Untuk Indonesia," yang rencananya diadakan pada Rabu, 6 Mei 2026.


"Kami dari pihak sekolah sangat mengapresiasi kehadiran rekan-rekan pesastra dan peseni dari dua komunitas yakni, Komunitas Literasi Betawi dan Ruang Puisi Kita, dengan harapan dapat lebih memberikan pemahaman dan wawasan bagi anak didik kami, terutama siswa kelas 5 yang nantinya akan berpartisipasi pada acara Teatrikal Puisi "Simfoni Untuk Indonesia" di Rabu 6 Mei 2026." Ujar sang Kepala Sekolah













Theodora Polar Hutajulu, salah seorang guru yang mengajar para siswa itu sekaligus penginisiasi kegiatan menyampaikan bahwa para siswa sangat senang kepada hal-hal terkait seni dan ekspresi diri, terlebih pula pihak sekolah sangat mendukung sekali setiap kegiatan yang mendekatkan atau memberikan wawasan tentang seni kepada para siswa


"Mereka (para siswa) dengan karakter masing-masing mudah untuk diarahkan, meski terkadang sebagian besar terlihat hiper aktif, namun secara keseluruhan adaptasi naluri dan intuisi mereka terhadap kesenian cukup baik, bahkan tak jarang mereka selalu bertanya kepada saya perihal waktu latihan untuk pementasan 6 Mei 2026, kapan kita latihan lagi miss, hehehe!  Ujar Theodora seraya tertawa.













Para siswa dengan kepolosannya pun nampak antusias menyimak pemaparan materi dari perwakilan dua komunitas tersebut. Piet Yuliakhansa dan Wahyu Toveng, sebagai perwakilan dari Komunitas Literasi Betawi masing-masing menyampaikan materi tentang Pembacaan Puisi dan Dramatisasi Puisi, sedangkan Ardian dari Ruang Puisi Kita menyampaikan materi tentang Musikalisasi Puisi. Beberapa siswa pun kemudian memberanikan diri untuk tampil membacakan beberapa puisi karya beberapa penyair Indonesia seperti "Doa" karya Chairil Anwar, dan "Lukisan Berwarna" karya Sapardi Djoko Damono.









Tampil pula Dhe Sundayana Perbangsa yang menyajikan penampilan khusus Rajah Sunda diiringi petikan gitar Pentatonik Sunda oleh Ardian, Ardian pula menampilkan satu lagu musikalisasi puisi dari puisi karya Osiehelmi, "Hujan Di Tanah Merdeka." Pada lagu ini nampak para siswa ikut bernyanyi, karena lagu ini juga nanti akan ditampilkan oleh mereka pada acara Teatrikal Puisi "Simfoni Untuk Indonesia." Seusai sesi penyampaian materi, sesi berikutnya adalah sesi bimbingan khusus secara kelompok yang dimentori oleh para perwakilan komunitas tadi, pada sesi ini para siswa mendapatkan pemahaman lebih detail terkait materi yang telah disampaikan sebelumnya.









Pengenalan puisi pada siswa-siswa sekolah dasar sesungguhnya cara yang efektif untuk membentuk kepribadian generasi masa depan yang kreatif, terbiasa menciptakan karya, terbiasa berekspresi keindahan, punya empati dan simpati kepada orang lain, dan yang terutama memunyai kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, baik itu lisan atau tulisan.


Editor: Wahyu Toveng

Foto: Koleksi panitia & Wahyu Toveng

(Dari kiri ke kanan: Wahyu Toveng, Dhe Sundayana, Theodora Polar, Piet Yuliakhansa, Ardian, Mahendra Widodo) 




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025