Sumur Tanpa Dasar Pada Karya Puisi Iwan Setiawan: Titik Yang Menolak Cahaya


TITIK YANG MENOLAK CAHAYA

Malam mengiris lidahku,
membuang nama yang tak mau sujud.

Di balik tulang,
ada doa yang memberontak
menjadi bayang tanpa tuan.

Aku menyalakan sunyi
hingga tubuhku runtuh
dan dari reruntuhan itu,
cahaya pun takut lahir.

---

Judul puisi karya mas Iwan Setiawan ini adalah "Titik Yang Menolak Cahaya," sebaris judul yang sepertinya justru menciptakan jeda koma ketika menyimaknya. Kata "Titik" secara harfiah makna utamanya adalah tanda baca penutup pada setiap akhir kalimat, atau bentuk bundaran yang sangat kecil. Namun kemudian diksi tersebut dirangkai dengan frasa, "Yang Menolak Cahaya," sejumlah pertanyaan lalu menggelitik, titik seperti apa yang menolak cahaya? Apakah titik itu seperti obyek yang dilihat dari jauh, sehingga ukurannya mengecil menyerupai titik-titik? Atau titik itu adalah simbolik dari akhir suatu kondisi? Jika memang demikian, apakah dapat ditafsirkan sebagai akhir yang menolak berakhir?

Diksi "Cahaya" di akhir judul mungkin menyimpan kunci makna dari keseluruhan kalimat judul, karena cahaya identik dengan sesuatu yang terang benderang atau dapat pula sebagai simbolik dari esensi keilahian Sang Pencipta, sehingga kalimat "Titik Yang Menolak Cahaya," bisa bermakna akhir dari suatu kondisi yang menolak menjadi jelas atau memunyai penjelasan, akhir yang tetap gelap tanpa suluh penerang dari Sang Pencipta. Tentunya kondisi seperti itu terkait keadaan jiwa seorang insan dengan berjuta problema di dalam dirinya, jiwa di dalam diri sesuatu yang terlalu personal, begitu dalam seperti sumur tanpa dasar bila raut jiwa itu sendiri tidak mampu atau belum mampu dikenalinya dengan baik.

Isi puisi kemudian dibuka pada bait pertama dengan dua larik lirik,

Malam mengiris lidahku,
membuang nama yang tak mau sujud.

"Aku Lirik" di bait ini menjelaskan soal waktu, yakni "Malam," dan kondisi waktu tersebut berubah seperti pisau, karena kemudian dirangkai dengan kata kerja "mengiris," tentu saja hanya pisau bentuk benda yang bisa digunakan untuk pekerjaan mengiris, kalau Qris yang digunakan adalah barcode (hehe). Kondisi waktu yang seperti pisau tadi lalu mengiris diksi "lidahku." Lidah adalah indera pengecap dan pengucap, jika dalam artian kondisi sesungguhnya saat lidah seseorang diiris, maka mengakibatkan ia tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan jelas, karena lidah adalah organ vital untuk membentuk kata dan bunyi bahasa.

Mas Iwan sepertinya ingin menggambarkan kondisi "Aku Lirik" yang kehilangan kata-kata atau tak mampu untuk berucap saat suasana malam hadir, ia tidak memilih subuh, pagi, siang, atau sore hari, karena mungkin malam pada umumnya di mana pun adalah saat semua aktivitas manusia telah terhenti sejenak untuk beristirahat dan menyisakan keheningan yang terasa menusuk. Mengapa bisa menusuk? Karena kemudian pada jiwa-jiwa yang memilih malam sebagai saat untuk perenungan, suasana hening malah menghadirkan banyak pertanyaan terhadap diri, apakah itu mengenai pencapaian, harapan, rencana, persoalan hidup, hingga munajat kepada Sang Pencipta. Pada kondisi itu seperti kata-kata lisan tidak lagi terucap, kata-kata justru panen dalam pikiran.

Hal itu diperkuat oleh larik lirik, "membuang nama yang tak mau sujud," ini adalah penggambaran yang terang tentang konflik di dalam batin. Si "Malam" tadi bukan hanya mengiris lidah, tetapi juga membuang frasa "nama yang tak mau sujud." Nama siapa atau nama apa yang dimaksud di lirik ini? Diksi "sujud" sepertinya mengungkapkannya dengan jelas di akhir lirik. Sujud adalah satu bagian dari 13 rukun salat yang biasa dilaksanakan oleh Umat Islam, atau secara makna merupakan tindakan ritual penghormatan, pengakuan, bentuk rasa syukur kepada suatu entitas yang kapasitas kekuasaannya melebihi diri pribadi seseorang, dalam hal ini adalah Sang Pencipta.

Ada ketidakberdayaan insan sebagai hamba yang membuat jiwa menyerah karena terbatasnya kapasitas dan tindakan untuk mewujudkan kehendak dari diri. "Nama yang tak mau sujud," menyatakan pembangkangan personal untuk berdoa dan bersyukur dalam perenungan atau secara transparan terlihat adanya arogansi keakuan diri si "Aku Lirik." Frasa itu pula sebuah simbolik untuk berbagai sikap dan sifat buruk dari seorang insan.

Kemudian malam hadir untuk menegur melalui diksi "mengiris" dan "membuang," namun malam di sini bisa jadi bukanlah seperti malam minggu yang ceria penuh pesta, malam gala dinner, atau malam dengan aktifitas kota yang tak pernah tidur, melainkan mungkin malam di waktu sepertiga malam yang sunyi di mana banyak jiwa bertafakur, kontemplasi, dan menghitung kekhilafan.

Di balik tulang,
ada doa yang memberontak
menjadi bayang tanpa tuan

Pada bait kedua puisi ini, mas iwan sepertinya lebih menjelaskan lagi deskripsi dari "nama yang menolak untuk sujud" pada bait pertama. Di bait ini, diksi "tulang" adalah simbolik dari fisik atau zahir seorang insan, namun kata "di balik" mengungkapkan apa yang berdiam di dalam zahir, yang tidak terbaca di permukaan dan lebih dalam dari apa yang nampak dari luar.

Malam seolah mampu menelanjangi kepalsuan hingga lidah kelu untuk mengucap lisan pembelaan. Lirik "ada doa yang memberontak" adalah kiasan untuk jiwa yang terbuka selubung kepalsuannya, jiwa itu berusaha untuk menyamarkan ketidaksabarannya demi semua harapan yang belum tercapai, jiwa itu adalah "nama yang menolak sujud."

Alih-alih berdoa dengan penuh harap dan ketulusan, ia lebih memilih memberontak penuh hujatan pertanyaan, menuhankan hawa nafsunya meski ia paham betul hanya kekosongan yang kemudian merasuki dirinya. Kosong dalam arti yang sangat kering dan hampa, bukan kosong karena akhirnya berlepas diri dari segala keinginan tubuh dan menemukan arti sesungguhnya dari diri, jiwa, dan untuk apa hidup di dunia ini.

Lirik "menjadi bayang tanpa tuan" sangat menjelaskan mengenai hal itu, karena bayangan atau bayang-bayang adalah hasil refleksi dari cahaya yang menerangi objek, dan tidak mungkin terbentuk tanpa ada unsur keduanya. Frasa "bayang tanpa tuan" adalah suatu kemustahilan, mas iwan menuliskannya untuk merekontruksi kemelut kehampaan si "Aku Lirik" yang "menolak untuk sujud" dan memberontak dalam doa-doa yang nihil.

Aku menyalakan sunyi
hingga tubuhku runtuh
dan dari reruntuhan itu,
cahaya pun takut lahir.

Empat larik lirik pada bait ketiga ini menjadi puncak dari ketidakberdayaan yang kelam, setelah bait pertama disusun oleh dua larik lirik, dan bait kedua dengan tiga larik lirik. Kata Aku lebih tegas pula muncul sebagai "Aku Lirik," sedangkan frasa "menyalakan sunyi" adalah titik terkelam dari puisi ini. Nyala yang semestinya identik dengan cahaya, di sini malah disandingkan dengan sunyi, jadi yang muncul bukanlah sebuah keterbukaan, melainkan ketertutupan.

Jika soundsystem dialiri listrik dan "dinyalakan" tombol powernya seharusnya outputnya pada speaker atau mikrofon adalah suara, tapi pada lirik ini yang dinyalakan adalah sunyi. Suara dan cahaya menjadi gagal didengar dan dilihat. Seperti simbolik untuk jiwa yang telah buntu dan tak ingin lagi menemukan suara jawaban atau cahaya penyuluh, "hingga tubuhku runtuh" terbenam dalam reruntuhan gelap pada sumur tanpa dasar.

Entah kemudian bagaimana jiwa si "Aku Lirik" dapat merangkak naik dari reruntuhan gelap, karena ia sendiri yang menolak cahaya lalu diadili dalam kesunyian malam tanpa pembelaan. Cahaya itu sendiri seperti takut untuk membelanya, menghampirinya dengan takdir kabar baik, karena sejak di bait pertama ia telah menolak untuk sujud.

Wallahu A'lam Bishawab,
Wahyu Toveng 11122025




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025