Tahun Selalu Berganti, Kasih Ibu Selalu Abadi


TAHUN SELALU BERGANTI, KASIH IBU SELALU ABADI
(Latar Belakang Tema Event Cipta Puisi Bulanan Grup FB KLB Desember 2025)

Sesaat lagi tahun 2025 segera berakhir, dan kita akan memasuki tahun 2026. Pergantian tahun sendiri adalah penanda waktu bagi manusia untuk dapat mengatur alur kehidupannya. Seperti pepatah yang disampaikan oleh Imam Syafi'i bahwa "waktu adalah pedang," yang mengandung arti jika waktu tidak dipergunakan dengan baik, maka waktu akan menebas kita dan kita menjadi merugi.

Di moment pergantian tahun pula, banyak orang kemudian melakukan kilas balik terhadap apa saja yang telah tercapai dan belum terwujud pada rentang waktu setahun kemarin, serta menentukan sendiri resolusi terbaik apa saja untuk satu tahun ke depan. Perubahan tentu saja tak dapat dilawan, seperti roda berputar yang terus bergerak maju, siapa yang tak siap maka pasti tergerus atau terlindas oleh perubahan. Seperti yang diungkapkan Gail Sheehy, seorang perempuan penulis Amerika bahwa, "Jika kita tidak berubah, kita tidak tumbuh. Jika kita tidak tumbuh, kita tidak benar-benar hidup."

Pada rahim perempuan, benih yang ditanamkan oleh seorang lelaki melalui proses hubungan intim, atas kuasa Sang Pencipta, secara alamiah kemudian bertumbuh dan berubah menjadi janin selama 9 bulan sebelum akhirnya terlahir sebagai bayi atau manusia baru. Maka Sang Perempuan lalu tersebutkan sebagai Ibu, dan Sang Lelaki sebagai Ayah. Selanjutnya Sang Bayi sebagai anak dari keduanya dirawat dan bertumbuh hingga kelak menjadi manusia dewasa dan sempurna. Dari semua proses tersebut, maka jelas bagaimana sebuah perubahan adalah keniscayaan pada setiap fase kehidupan manusia.

Tanpa mengesampingkan dan mengecilkan peran seorang Ayah pada hubungan Orang tua dan anak, seorang Ibu jelaslah memunyai ikatan batin paling kuat dengan anaknya. Ibu lah yang merasakan sejak dalam kandungan bagaimana anaknya bertumbuh. Dari mulai janin itu semakin membesar yang menampakkan perubahan fisik pada Sang Ibu, kemudian Ibu merasakan pergerakan pertama dari Janin di dalam kandungan, hingga perjuangan antara hidup dan mati tatkala melahirkan baik secara normal ataupun melalui proses operasi Caesar.

Sang Ibu pula yang menjadi madrasah pertama bagi buah hatinya sejak masa menyusui, belajar berdiri, berjalan, berinteraksi, belajar menyerap banyak hal dalam kehidupan. Ibu bisa sangat marah bila anaknya melakukan kesalahan, tetapi ibu pula yang paling lebih mudah untuk memaafkan dan tetap memberikan cinta kasihnya tanpa banyak prasyarat. Ibu seperti perlambang sumber dari seluruh kehidupan yang bertumbuh dan berubah. Namun meski waktu tetap melaju ke depan menyibak banyak misteri takdir kehidupan, menghadirkan banyak perubahan, kasih sayang seorang Ibu takkan pernah habis dan usai terkecuali kematian yang menghentikannya. Bahkan seusai kematian itu datang, kasih sayang seorang Ibu tetap tak terganti dalam kenangan. Ia tetap hidup dan memberikan ruh kekuatan bagi mereka yang memahami bahwa dunia ini seperti roda yang terus berputar

wt04122025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025