Puisi-Puisi Pemenang Event Cipta Puisi Dwi Bulanan Grup FB Komunitas Literasi Betawi Edisi Februari - Maret 2026
1. MENCATAT FITRAH PUASA DALAM PUISI
Karya: Arnita
2. EPIFANI MUARA RAMADAN
Karya: Rissa Churria
3. DI ANTARA PUISI DAN PUASA
Karya: Mira Devoncho
4. ANTARA RAMADAN DAN SYAWAL
Karya: Safri Naldi ( Aru ZA )
5. FITRAH DI UJUNG RINDU
Karya: Evie Aulia Nirwana Purie
MENCATAT FITRAH PUASA DALAM PUISI
Karya: Arnita
Ia adalah waktu
Yang membentuk rumus-rumus rahasia, senantiasa membawa kita untuk menziarahi jiwa di antara sebelas bulan yang pucat, kemudian orang-orang mencari suara untuk kembali ke titik nol di sela usia yang semakin renta.
Puasa ini mencatat puisi dalam tubuh waktu melahirkan tafsir kata-kata. Berlaksa mimpi menyelusup ke setiap rongga ingatan dan denyut nadi. Tapi kisah enggan berakhir, semua menitipkan pesannya pada lipatan takdir.
Tidak ada yang lebih puitis selain hening puncak doa dan luhur kemenangan pada ketaatan jiwa. Diri yang muhasabah, memahat spiritualitas di riuh dada dunia. Bulan ini masih kemilau cahaya, takzim mengabarkan fitrah meski waktu semakin menua.
Dan malam seribu bulan terbit di kedalaman batin, seperti pendar jiwa melesat melampaui rotasi bumi. Puisi ingin tertulis di ruang galaksi ketika puasa memeluk ranum ketakwaan, Di sini, di relung hati yang fana sebelum waktu menuntun untuk pulang, peluklah sekali lagi jernih kata-kata di hari raya.
Februari-Maret 2026.
EPIFANI MUARA RAMADAN
Karya: Rissa Churria
Awalnya aku kira puasa
hanya menahan butir nasi
dan seteguk air
dari subuh hingga magrib datang
Ternyata salah
aku sedang menahan-Mu
yang setiap saat ingin meluncur
dari ubun-ubun ke ujung kaki
menjadi zikir yang basah
di seluruh pori-pori
Engkau sembunyikan Ainul Hayat
di balik ribuan lapis debu
yang kutuangkan dari telapak tangan-Mu
ke dalam kendi-kendi tubuh
yang sengaja Kau retakkan
agar aku tahu
betapa hausnya rindu
yang tak sampai pada sumbernya
Tiga puluh malam qiyam
aku mencari sumber itu
mungkin pada sujud terakhir
ketika dahi menempel bumi
lalu bumi berbisik:
"Dia lebih dekat dari urat lehermu sendiri"
Pada sepertiga malam
ketika tangis dan tawa
melebur jadi satu irama
aku tak tahu
apakah air mata ini
jatuh karena bahagia
atau sedih tak lagi bernama
Lalu pada lailatulqadar
saat malaikat turun lebih padat
dari butir debu yang tertinggal
aku melihat mata air
memancar dari dadaku sendiri
aku tenggelam
dalam diri yang tak terduga
Ainul Hayat
ternyata bukan air yang kuminum
tapi Aku yang meminum diriku
dengan bibir-bibir-Mu yang tak terhingga
Pagi ini
takbir menggema dari segala penjuru
dari menara dan sujud
dari samudera dan puing-puing
dari anak-anak yang menggenggam kemenangan
dari orang tua yang menggenggam kehilangan
Aku mendengar takbir paling lirih
dari dalam kalbuku sendiri
yang berkata:
"Kau telah pulang
ke rumah yang tak pernah kautinggalkan"
Fitrah
bukan kain putih yang membalut
bukan ketupat dan hidangan
bukan maaf yang terucap dari bibir
tapi diriku yang kembali
ke bentuk asal
ketika aku masih cahaya di lautan gaib
ketika "aku" dan "Engkau"
belum terpisah oleh napas dan raga
Di hari yang fitri ini
Ainul Hayat mengalir deras
dari segala arah
aku berdiri di tepinya
sebagai buih yang sadar
bahwa dirinya adalah laut
Maka kulepaskan seluruh
yang kusangka milikku
puasa, shalat, air mata, doa
semuanya kukembalikan
ke sumber yang memancarkannya
Aku
ah, aku hanya gelombang
sesaat meninggi
lalu kembali
di kedalaman tak bernama
tempat Ainul Hayat mengaliri keabadian
dengan nama-nama baru
bagi Dia yang tak pernah berubah
Di hari fitri, aku merayakan bukan kemenangan
tapi kekalahan terindah:
luruhnya diri dalam sumber kehidupan
yang sejak awal
hidup di dalam diriku sendiri
Bekasi, 17.03.2026
DI ANTARA PUISI DAN PUASA
Karya: Mira Devoncho
Beduk magrib memantul di dinding dada menggugurkan debu-debu riuh yang lama bersarang beranda rumah panggung
angin menggiring aroma kolak
dan doa-doa yang pelan belajar khusyuk di antara sendok, gelas, dan cahaya senja yang temaram.
Puasa adalah jalan sunyi
kami menapakinya tanpa alas
tanpa tepuk tangan
melewati haus yang menjelma cermin
agar wajah sendiri tampak lebih jujur daripada bayangan di etalase kota.
Di antara puisi dan puasa
kata-kata menanggalkan gemerlapnya
Ia tak lagi ingin dipuja atau diabadikan
hanya ingin bersujud bersama lapar yang sabar menunggu azan sebagai rahmat.
Moyang berdesir di tikar pandan
mengajarkan sederhana sebagai mahkota
lampu sentir gemetar namun setia
seperti iman yang tak banyak bicara
meski angin zaman berkali-kali menggoda.
Dan ketika hari raya mengetuk pintu
kami hanyalah debu yang selesai dibasuh ampunan saling bersalaman seperti sungai kembali ke hulu membiarkan fitrah berdiri tanpa hiasan
bening
selepas takbir yang panjang.
Jakarta, 23 Maret 2026
ANTARA RAMADAN DAN SYAWAL
Karya: Safri Naldi ( Aru ZA )
Ramadan datang
Seperti ingatan yang bertandang
Ke lubuk hati yang paling lengang
Ramadan mengetuk pintuku tanpa gaduh
Tetapi, segala yang riuh
Jatuh dan luluh
Aku bergegas merapikan segala
Niat, iman, dan doa-doa
Yang semula hanya terselip di antara sibukku mengejar dunia
Setelah Ramadan datang
Malam-malam terasa memanjang
Karena rindu, akhirnya diberi tempat untuk pulang
Di Ramadan ini
Aku mencicipi sekat yang tak pernah kuakui
Aku dan Tuhanku yang kubiarkan berjarak tanpa kusadari
Lalu aku mencari pengampunan
Katanya berada di antara gelapnya malam
Tetapi, siapa yang benar-benar tahu malam mana yang akan kugenggam?
Syawal tiba
Suara takbir berhamburan di udara
Seperti pecahan langit yang jatuh ke dalam dada
Orang-orang menyebutnya hari kemenangan
Tapi aku mendengar satu yang dipertanyakan
“Kemenangan dari apa, jika dosa dan kesalahan kembali kupeluk dengan kesadaran?”
Ramadan telah mengajariku pulang seperti dulu
Tapi Syawal mengujiku
Apakah aku benar-benar mengenal jalan itu, atau hanya sebagai alibiku
Di antara Ramadan dan Syawal
Aku bukanlah pemenang, dan bukan pula yang kalah total
Aku hanyalah hamba yang selalu sibuk bertanya
“Bagaimana cara tidak kehilangan keduanya?”
Jakarta, 22 Maret 2026
FITRAH DI UJUNG RINDU
Karya: Evie Aulia Nirwana Purie
Hilal bersemi di pelupuk langit
Ramadan bermula dengan sengit
Kusulam maaf, ke luas cakrawala
Agar lara luruh tak terhalang ganjaran pahala
Puasa ini adalah rihlah menuju sempurna
Mengejar ikhlas demi Firdaus yang bukan sekadar berita
Di hening iktikaf, aku luruh dalam sujud
Membasuh noda dengan rida-Mu yang meneteskan ilham
Kutadaruskan Kalam-Mu, membungkam lidah setajam pedang
Agar diksi tak lagi menjadi penyulut bara perang
Kukunci lisan dari gibah yang mewabah
Sebab aku tak ingin karam dalam nista yang parah
Tiap malam, rakaat sunah kususun rapi
Muhasabah diri di palung tarawih yang khusyuk sepi
Meski mendaki jiwa ibarat meniti cadas yang tinggi
Sungguh-sungguhku adalah pasak agar tak lagi merugi
Lalu di malam Lailatulqadar, ampunan ingin kupeluk erat
Meski fitrah menghalang hajat karena bulir merah yang lewat
Namun malaikat telah memahat niat yang terpatri kuat
Zakat kutunaikan, membasuh jelaga di dinding diri
Hingga gema takbir memecah sunyi di sanubari
Di antara puisi dan puasa yang kulalui
Kata-kata menjelma fitrah, menghapus segala sesalan
Namun langkahku tertatih di hamparan nisan
Tempat ayah bersemayam dalam keabadian yang berkesan
Dua puluh lima tahun merindu di atas pusara
Hanya isak dan Yasin yang kini bisa kupasrah
Bukan wewangi mawar yang kau pinta di tanah sunyi
Tapi selaksa doa yang menembus tirai ruhani
Kudekap nisanmu, nyeri menghujam hingga ke hulu jantung
Hanya Lailahaillallah tempatku kini bergantung
Kemenangan kini bukan tentang baju yang baru
Melainkan batin yang menang melawan nafsu yang menderu
Idulfitri adalah pulang, kembali ke rahim kesucian
Usai sebulan bertarung di medan pengabdian
Di antara gema takbir dan rindu yang tak kunjung usai
Fitrah kuterima, meski air mata belum jua usai
Simpang Ampat, 22 Maret 2026






Komentar
Posting Komentar