Dukungan Para Peseni Kepada Tempo: Melawan Teror Intimidasi Terhadap Pers Dan Jurnalis.

 

Zulfikar Akbar, Mayumi, dan Ireng Halimun memberikan testimoni dukungan untuk Tempo dan Cica (Dokumentasi Pribadi) 

Sejumlah Peseni hadir ke Gedung Tempo di Jalan Palmerah No. 8 Jakarta Selatan pada Senin 24 Maret 2025, dengan maksud menyampaikan sikap dukungannya terhadap media nasional Tempo yang beberapa hari lalu mendapatkan teror berupa kiriman kepala babi (19/03) dan 6 bangkai tikus dengan kepala terpotong (22/03). 

Kehadiran mereka diterima langsung oleh Wakil Pemimpin Redaksi Tempo, Bagja Hidayat dan dua jurnalis desk politik Tempo sekaligus host program Bocor Alus Politik pada kanal YouTube Tempodotco, yaitu Stefanus Pramono dan Francisca Christy Rosana (Cica). 

Bagia Hidayat dalam sambutannya mengungkapkan bahwa, teror kepala babi dan bangkai tikus itu sepertinya secara spesifik ditujukan terhadap tim Siniar Bocor Alus Politik, khususnya Francisca Christy Rosana (Cica), karena pada kiriman paket berisi kepala babi dengan dua kupingnya yang dikerat, tertulis jelas nama Cica. 

Sedangkan untuk kiriman paket 6 ekor bangkai tikus dengan kepala terpotong dalam kotak kardus terbungkus kertas kado bermotif bunga mawar merah, secara kentara menyiratkan jumlah personil tim yang terdiri dari 6 orang. 

Sejumlah Peseni dan Cica (Dokumentasi Pribadi) 

"Terima kasih untuk kehadiran Bapak, Ibu, rekan-rekan Peseni seluruhnya, ini sangat mengharukan bagi kami, membuat saya teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma pada medio 1990-an dengan judul, "Jika Jurnalis Dibungkam, Sastra Harus Bicara" maka arahnya kini terlihat setelah para jurnalis dibungkam, mungkin tak lama lagi orang-orang sastra juga akan dibungkam, karena keduanya sama-sama mengusung kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi," Ujar Bagja. 

Lebih lanjut ia pun menjelaskan bahwa Tempo melalui Pemrednya, Setri Yasa telah melaporkan teror kepala babi kepada pihak kepolisian, demikian pula dengan kiriman bangkai tikus yang telah didokumentasikan oleh polisi, ia berharap kedua kasus ini dapat terungkap secepatnya. 

"Saya tidak tahu bagaimana para Peseni menafsirkan 2 Satwa yang menjadi objek untuk meneror kami, yaitu babi dan tikus, sehari setelah kiriman kepala babi, kami mendapatkan pesan singkat dari orang tidak dikenal yang menyebutkan bahwa kami budeg atau tuli, tetapi tidak jelas budeg terhadap apa, sepertinya mungkin kami ini dianggap tidak menerima kritik, kami tidak tahu pasti. 

Namun bila merujuk ke beberapa waktu yang lalu, ada pidato Presiden mengenai Media yang disusupi asing dan Media yang memecah belah, mungkin bisa saja terkait hal tersebut, seolah kami ini sudah diingatkan tetapi tim Bocor Alus Politik yang ditangani oleh Cica dan 5 orang rekannya masih lugas berbicara," Tutur Bagja sembari berseloroh. 

Bagja pun berpandangan bahwa kedua teror ini sangat keji, tidak bermoral dan pengecut, sebab mengorbankan dua satwa, babi dan tikus sebagai makhluk hidup yang dikerat dan dipotong hanya untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi para wartawan, kerja media, dan kebebasan pers. 

"Bila Tempo dan seluruh media lain di negeri ini menjadi takut oleh teror tersebut, lalu tidak ada lagi liputan media yang menyoroti penyalahgunaan wewenang, berbagai kasus korupsi dan lain-lain, maka kekuasaan akan sangat cenderung korup. 

Dengan adanya media saja, kekuasaan bisa semena-mena, bagaimana jadinya tidak ada media. Dapat dipastikan Yudikatif, Legislatif, Eksekutif sebagai tiga pilar demokrasi, akan menjadi tidak lagi memunyai kontrol oleh media." Ucap Bagja menambahkan. 

Sebelum mendatangi Gedung Tempo, Para Peseni telah merespon teror tersebut dengan gerakan moral dukungan terhadap Tempo melalui media sosial seperti grup Whatsapp, Facebook dan Instagram. 

Tercatat dalam lampiran yang diserahkan oleh perwakilan Peseni, Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, telah hampir sekira 264 orang peseni yang menyatakan sikap mereka menentang segala bentuk teror intimidasi terhadap dunia pers dan jurnalis. Jumlah tersebut diperkirakan masih terus bertambah.  

Mereka terdiri dari penulis, pesastra, penyair, novelis, peteater, aktor, sutradara, pemusik, komponis, pelukis, budayawan, fotografer, konten kreator, muralis, hingga akademisi, dosen, guru, advokat, dan jurnalis berbagai media. 

Sedangkan beberapa nama peseni yang hadir di Gedung Tempo pada senin 24 Maret 2025 kemarin, selain Ahmadun Yosi Herfanda antara lain, Mustafa Ismail, Willy Ana, Kurnia Effendi, Ireng Halimun, H. Shobir Poer, Zulfikar Akbar, Yon Bayu Wahyono, Erna Winarsih Wiyono, Mayumi, Wahyu Toveng, Gilang Sulaiman, serta beberapa nama lainnya. 

Dalam kesempatan itu, Ahmadun Yosi Herfanda membacakan pernyataan sikap yang telah diedarkan di media sosial untuk menggalang dukungan para Peseni terhadap Tempo, kemudian Penyair Zulfikar Akbar, Pelukis Ireng Halimun, serta Advokat pembela hak-hak perempuan dan anak, yakni Mayumi, mewakili para Peseni yang hadir di tempat tersebut menyampaikan pula testimoni dukungan mereka. 

Zulfikar menyebutkan bahwa, kepala babi dan bangkai tikus yang dikirimkan kepada Tempo, secara jelas menggambarkan wujud entitas peneror dan apa yang sedang terjadi di negeri ini. 

"Babi adalah simbol dari kerakusan, dan kita tahu siapa yang paling takut hari ini adalah mereka yang menyembah kerakusan, sedangkan tikus adalah hewan yang sangat cepat berkembang biak, maka dapat disimpulkan saat ini yang cepat berkembang biak adalah segala bentuk kerakusan dan orang-orang bermental rakus tadi," tegas Zulfikar

Sementara Mayumi yang bernaung dalam organisasi Semangat Timur Kami (Semantik), dengan programnya yang menaruh perhatian khusus kepada isu hukum perundungan dan kekerasan seksual terhadap perempuan, Ia pun secara pribadi merespon teror kepala babi terhadap jurnalis Tempo, Cica sebagai kekerasan terhadap perempuan. 

"Tindakan teror tersebut dapat digolongkan sebagai Femisida terhadap perempuan, yakni istilah yang merujuk kepada tindakan pembunuhan terhadap perempuan dan gender. Tindakan ini bukan hanya kekerasan secara fisik, namun juga dapat berujung terhadap kematian psikologis, pandangan pemikiran dari perempuan sebagai kelompok rentan, dalam konteks kekuasaan yang tidak berimbang. Hal tersebut dapat menutup aspirasi dan suara dari perempuan." Papar Mayumi. 

Sedangkan Pelukis sekaligus Jurnalis Ireng Halimun, ia pun menyampaikan sekelumit pandangannya sebagai penguatan dan dukungan moral kepada Cica dan Tempo. 

"Pada dasarnya Art and Civilization, selalu tumbuh berdampingan, bahwa Art (seni) selalu bergandengan dengan Civilization (Peradaban). Jika Art melempem, maka peradaban tidak dapat dibentuk. Kemudian di antara Trias Politika, Peseni dan Jurnalis menjadi pilar keempat dari Trias Politika, jika pilar keempat patah maka kehidupan tidak berimbang. 

Di dalam pelaksanaannya, terdapat Undang-undang No.40 tahun 1999, yang mengatur prinsip, ketentuan, dan hak-hak pers di Indonesia. Tetapi ketika ada sebuah kejahatan, kecurangan, dan kita diam saja, itu sama saja kita ikut terlibat di dalamnya, karena membiarkannya begitu saja. Baik Peseni maupun Jurnalis tidak boleh diam melihat hal seperti ini." Tutur Ireng menjelaskan 

Sebelumnya di awal acara, satu komposisi tarian adat Sunda bertajuk Ratu Graeni yang diciptakan oleh R. Tjetje Somantri pada 1949, ditampilkan oleh Petari bernama Indonesiana Putri Wicaksono. Selain itu Willy Ana, Kurnia Effendi, H. Shobir Poer, Wahyu Toveng, dan Gilang Sulaiman berkesempatan membacakan puisi kepedulian sebagai respon terhadap kasus teror kepala babi dan bangkai tikus yang menimpa Tempo. 


Wahyu Toveng


Komentar

  1. Kompak...dukung terus...kepada siapa lg rakyat percaya kl bukan kompas & jurnalisnya yg tangguh.Berani suarakan kebenaran.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025