Tony Q Rastafara; Bermusik dan Melukis, Sebuah Eksplorasi Seni Dalam Diri
![]() |
| Tony Q Rastafara pada Pameran Karya Seni Lukis: To Be Wise |
Tidak banyak yang tahu bahwa Tony Q Rastafara, seorang penyanyi reggae Indonesia kelahiran semarang, 27 April 1971 dengan nama asli Tony Waluyo Sukmoasih, ternyata juga seorang pelukis andal.
Ditemui pada Pameran Karya Seni Lukis "To be Wise" yang digelar di 75 Gallery, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada 8 hingga 18 februari 2025 lalu, yang melibatkan 10 orang Pelukis, yang pernah dan masih tergabung dengan Sanggar Garajas (Gelanggang Remaja Jakarta Selatan).
Mereka antara lain, Abdussalam, Agus Budiyanto, Didiet Kadito, Ernawan Prianggodo, Hudi Alfa, Ireng Halimun, Jan Praba, Poppy Drews-Liem, Q’bro Pandamprana, dan Tony Q Rastafara sendiri. Terdapat 47 lukisan karya mereka yang dipamerkan, temasuk 6 lukisan karya Tony.
Bagi Tony Q Rastafara melukis adalah cita-citanya sejak kecil, sementara bermusik adalah cara dirinya berkesenian untuk mendapatkan penghasilan.
"Saat saya remaja dan hidup di jalanan, melukis belum dapat diandalkan sebagai cara untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lalu musik hadir dalam hidup saya, tetapi bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai panggilan jiwa.
![]() |
| Dari kiri ke kanan: Tony Q Rastafara, Dwi Rahayu (Humas 75 Gallery), Ireng Halimun (Pelukis dan Koordinator Sastra Semesta) |
Dengan bemusik, saat itu saya menjadi lebih survive, karena lebih mudah secara ekonomi mendatangkan nilai finansial. Baru kemudian sesudahnya, hasil dari bermusik dapat dipergunakan untuk menunjang terwujudnya hasrat saya terhadap seni lukis, semisal pembelian kanvas, alat lukis, dan cat untuk melukis," ujar Tony menuturkan.
Dalam perjalanan hidupnya setelah itu, Tony mengakui, baik bermusik ataupun melukis dapat mengalir beriringan dan saling menunjang. Sebab secara perenungan intuisi seni, pada proses kreatif penciptaan karya terdapat benang merah yang sama.
"Pelukis, pemusik, ataupun peseni di bidang yang lain, banyak yang mengandalkan kepekaannya terhadap apa yang terjadi dan ia alami sebagai makhluk sosial, seperti menyimak berita, bersosialisasi dengan orang, hingga membaca keadaan lingkungannya sendiri.
Semua itu dapat menjadi ide saat penciptaan karya. Bagi saya sendiri, melukis itu pula menjadi cara untuk saya bermeditasi, karena ada penuangan perasaan yang benar-benar bebas, bebas dari ruang lingkup kehidupan keseharian, lebih personal hanya ada saya, cat dan kanvas." Ungkap Tony.
Ketika ia dimintai tanggapan terhadap begitu masifnya berbagai pameran seni rupa yang diadakan hampir tiap minggu di banyak tempat di jakarta, Tony menilai hal itu sangat dapat mengakomodasi para perupa untuk berekspresi dan mengeksplorasi diri pada banyak ruang.
"Namun walaupun event pameran seni rupa berlangsung di berbagai tempat, wujud apresiasi tetap hadir dari masyarakat luas, seberapa sering karya seni rupa diapresiasi dan mendapat perhatian dari banyak khalayak di sebuah pameran, atau bahkan mendapat kritikan dari para kritikus. Hal itu semestinya pula menjadi perhatian para seniman." Tegasnya.
Lebih lanjut ia menambahkan perihal kritik terhadap suatu karya seni rupa, hal itu sah-sah saja, karena setiap orang masing-masing memunyai latar belakang pendidikan, pengalaman, taste atau passion kesenian berbeda-beda, yang akhirnya membentuk selera seni seseorang seperti apa, dan mengakumulasi kesimpulan atau pandangan dirinya saat menyimak suatu karya itu bagaimana.
"Selera seni pada seseorang itu dapat terbentuk dan terpengaruh oleh banyak faktor seperti, latar belakang dan kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan sejak kecil hingga dewasa, nilai-nilai hidup yang ditularkan oleh orangtua, sekolah, guru, dan lingkungan, kemudian pendidikan lanjutan yang ia tempuh, ketertarikan terhadap pertunjukan seni atau karya seni seperti apa yang pernah ia simak. Yang kemudian semua itu membuatnya menilai suatu karya secara sangat subyektif, dan dapat pula sangat kritis." Tutur Tony menambahkan.
![]() |
| Lukisan Gusdur karya Tony Q Rastafara |
![]() |
| Lukisan Mandela karya Tony Q Rastafara |
Namun pada intinya, Tony sedikit menegaskan bahwa, eksplorasi pada saat menciptakan karya itu kembali kepada diri peseni itu sendiri,
"Apakah ia pemusik atau pelukis, memiliki kebebasan untuk mengeksekusi ide yang ada di pikirannya menjadi bentuk yang ia inginkan. Sementara kritikan atau saran masukan dapat dijadikan sebagai cara untuk melihat kekurangan seperti apa yang tidak disadari sebelumnya, yang kemudian dipertimbangkan pada proses penciptaan karya berikutnya." Tutupnya.
Wahyu Toveng




Komentar
Posting Komentar