In Memoriam Lucia Hartini Perempuan Pelukis Surealis Indonesia
![]() |
| Foto In Memoriam Lucia Hartini / Sumber: Google dan Facebook |
In Memoriam Lucia Hartini, Perempuan Pelukis Surealis Indonesia
Masyarakat seni rupa tanah air berduka, Lucia Hartini, seorang maestro perempuan pelukis Indonesia kelahiran Temanggung 10 Januari 1959, meninggal dunia dalam usia 66 tahun, pada Rabu pagi 27 Agustus 2025 setelah berjuang sekian lama melawan penyakit kanker yang dideritanya.
Kabar tersebut terkonfirmasi pada banyak postingan akun media sosial terutama facebook dari para peseni, jurnalis, pecinta seni, dan lembaga seni, seperti Butet Kartaredjasa, Kuss Indarto Kusnan, Irwan Julianto, Dadang Christanto, Sunardian Wirodono, Nisan Kristiyanto, Ireng Halimun, Yaksapedia, hingga Bentara Budaya Yogyakarta.
Semasa hidupnya, karya-karya lukisan Lucia Hartini dipandang oleh masyarakat seni rupa Indonesia bergaya Surealisme dengan ciri khas
planet-planet, draperi, nuansa warna, detail guratan awan-awan tipis dan sangat dominan menggunakan memaksimalkan warna biru yang dalam sekali. Meskipun sebenarnya Lucia pada awalnya tidak mengerti apa itu Surealisme, seperti pernah ia menuturkannya kepada jurnalis Kompas, Herlambang Jaluardi yang mewawancarainya pada 2019 di kediamannya di daerah Bugisan, Bantul, Yogyakarta.
![]() |
| Foto lukisan karya Lucia Hartini / Sumber: Google |
“Saya tidak tahu surealisme itu bagaimana, karena saya juga tidak kuliah, pernah bersekolah di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) tapi itu juga tidak tamat, saya sekolah hanya dua tahun dan pada 1977 saya dikeluarkan dari sekolah itu,” ungkap Lucia ketika itu.
Ia pun mengaku gaya melukisnya hanyalah sesuka hati dan senyamannya saja dengan menuangkan banyak ide dari apa yang ia lihat, dengar, alami, dan rasakan. Lucia baru mengetahui istilah surealisme setelah ia berpameran bersama sang suami, di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1983. Lucia pun kemudian mendefinisikan tentang Surealisme, bahwa menurutnya Surealis itu justru nyata, hanya tidak bisa dilihat oleh mata manusia pada umumnya, hanya manusia tertentu yang bisa melihat, dan bisa sampai ke sana.
Lucia mengungkapkan pula kerap bermeditasi atau menjalankan lelaku hening sebagai upaya membuka cakrawala dan perspektif baru dalam karya-karyanya. Ketika bermeditasi ia mampu melihat dan merasakan dimensi lain yang begitu sakral, menjadi menghibur untuk segala kegundahan jiwanya, yang kemudian dituangkannya dalam bentuk objek dan komposisi warna di atas kanvas dengan makna tersirat. Maka hadirlah bentuk benda-benda antariksa, asteroid, bulan, pusaran angin, kumpulan awan, ombak, karang, gerbang, lorong, serta rupa jagat raya yang bersinggungan dengan kosmos mikro, manusia, hingga binatang.
![]() |
| Foto lukisan karya Lucia Hartini / sumber: Google |
Kini sang maestro perempuan pelukis surealis itu telah tutup usia, pihak keluarganya mengkonfirmasi bahwa jenazahnya dikebumikan di komplek Makam Seniman Giri Sapto, Imogiri, Bantul, Yogyakarta pada Kamis 28 Agustus 2025, sekira pukul 13.00 WIB, setelah sebelumnya disemayamkan di rumah duka di Bugisan Selatan, Gumuk Indah Kidul, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.
Berikut beberapa penghargaan yang diraih dan kegiatan pameran karya lukisan yang pernah dilakukan semasa hidupnya,
Penghargaan:
“Prathika Adhi Karya” untuk karya Sketsa Terbaik (1976).
“Prathika Adhi Karya”, untuk karya Sketsa dan Lukisan Terbaik (1977).
“Jakarta Art Awards”, Penghargaan Khusus (2006).
Beberapa Pameran:
Pameran tunggal Lukisan Lucia Hartini, Bentara Budaya Jakarta, 1992.
Pameran bersama Confess and Conceal, Insights From Contemporary Australia and South East Asia di The Gallery of Western, Australia, 1993.
Pameran tunggal Batas Antara Dua Sisi, Bentara Budaya Yogyakarta, 1994.
Pameran bersama di National Gallery of Art, Bangkok, Thailand, 1994.
Pameran tunggal Spirit of Life, Bentara Budaya Jakarta, 2002.
Pameran bersama penggalangan dana untuk Yayasan Kanker Indonesia, Charity Indonesia, Jakarta, 2016.
Wahyu Toveng
Sumber: Kompas dan beberapa sumber lainnya
![]() |
| Foto Lucia Hartini dan karya lukisannya / Sumber: Kompas dan Google |




Komentar
Posting Komentar