Sopo Siro Sopo Ingsun: Siapa Anda Siapa Saya

 
Flyer Pameran Seni Lukis
Sopo Siro Sopo Ingsun / Sumber: Panitia 

Sopo Siro Sopo Ingsun: Siapa Anda Siapa Saya

Saya berkunjung lagi ke sebuah pembukaan pameran lukisan di galeri Darmin Kopi di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan pada Sabtu malam, 16 Agustus 2025 lalu. Seperti biasanya bila saya datang menyimak ke acara seperti ini, saya tidak membawa beban identitas tentang siapa sesungguhnya saya untuk hadir di antara para pelukis. Saya menjelma ruang kosong atau pula kanvas yang belum dicumbu kuas dan aneka warna, walau sebagian pikiran saya tidak sekosong itu pula.

Malam itu sedikit terlambat saya hadir, kata terlambat di sini cuma pembelaan saya saja sebenarnya, tetapi memang saya memunyai alasan mengapa saya terlambat, bukankah selalu ada alasan mengapa seseorang tidak tepat waktu, tetapi apakah terlambat itu sama dengan tidak tepat waktu? Dan jika semua ini harus tertulis, kata-kata dari kepala kita masih berhak keluar bukan? Karena kata-kata berhak keluar dan tidak keluar sebagai hasil dari penggodokkan ide di kepala kita. Bila sudah keluar dari kepala kita, sudah bukan ide lagi melainkan hasil dari ide.

Seperti karya-karya lukisan yang malam itu saya simak di darmin kopi, karya dari dua orang pelukis senior yaitu Chryshnanda Dwi Laksana dan almarhum Puguh Tjahyono Warudju, keduanya disatukan dalam tema pameran yang bertajuk "Sopo Siro, Sopo Ingsun." Sebentuk tema sarat perenungan mendalam, meski dengan corak dan gaya penuangan ide mereka berbeda di atas kanvas.

Pameran yang secara resmi dibuka oleh mantan Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu dan Politisi MS. Kaban itu sebenarnya digagas untuk mengenang sosok almarhum Puguh Tjahyono Warudju atas dedikasinya terhadap dunia seni rupa semasa ia hidup. Terdapat sekitar dua puluh delapan karya lukisan yang dipamerkan sejak 16 hingga 28 Agustus 2025, terdiri dari enam belas karya pelukis Chryshnanda dan dua belas karya pelukis almarhum Puguh. Keseluruhan karya dikuratori Jeffrey Sumampouw

Sejumlah pelukis dan pegiat seni tampak hadir di tempat itu seperti, Kepala Balai Budaya Syahnagra Ismail, Ireng Halimun, M. Sodik, dan para pelukis yang tergabung dalam Perupa Kota dan Peruja.

Dalam pengantarnya di katalog pameran, pelukis Chryshnanda Dwi Laksana yang juga merupakan seorang perwira tinggi POLRI berpangkat Komjen menyebutkan, Sopo Siro Sopo Ingsun dalam bahasa jawa berarti, Siapa Anda Siapa Saya, ini bermakna sebuah refleksi atas hidup yang menjauh atas manusia dan kemanusiaannya, kemudian seni yang merupakan harmoni atas hidup dan kehidupan dapat menjadi jembatan komunikasi dalam menata keteraturan sosial bagi semakin manusiawinya manusia sebagai refleksi peradaban.

Lukisan karya Chryshnanda Dwi Laksana / Sumber: Jepretan Wahyu Toveng 




Lukisan-lukisan karya Chryshnanda hampir keseluruhannya bercorak abstrak dengan tetap mempertahankan dasar putih kanvas dan menggoreskan mayoritas warna hitam pada bentuk objek dan sedikit warna merah serupa titik atau mempertegas pada bagian tertentu di sekitar objek hitam tadi. Ada makna dan maksud tersendiri baginya menuangkan ide sedemikian rupa pada pamerannya kali ini. Seperti yang ia sampaikan pada katalog bahwa hal itu sebagai sebuah kritik pada hidup dan kehidupan, segala sesuatu tidak cukup hanya sebatas benar dan salah, untung dan rugi, baik dan buruk. Melainkan ada sisi-sisi yang lebih hakiki yaitu manusia sebagai aset utama bangsa. Sebagai cerminan atas pikiran, perkataan, perbuatan, dan bela rasa, lantas kemana sejatinya setiap insan mesti berpihak, apakah kepada keutamaan kemanusiaan atau sebaliknya?

Lukisan karya Puguh Tjahyono Warudju / Sumber: Jepretan Wahyu Toveng



Sementara pada lukisan-lukisan karya almarhum Puguh lebih kepada bentuk objek dengan ketegasan, meskipun tidak mengacu pada cara ungkap realis dan lebih simbolik dengan warna-warni tegas pada setiap bidang bentuk objek, terlihat sederhana namun tetap tidak sesederhana itu pula dalam pengungkapan makna yang tersirat dari citraan awal ketika menyimaknya. Seperti membawa kita merenung pada potret kehidupan dengan nadi nasib yang berbeda untuk banyak jiwa di muka bumi ini. Puguh seperti mampu menangkap momen berbagai lakon nyata di sekitarnya lalu menuangkannya ke kanvas dengan ruh empati yang artistik.

Wahyu Toveng

Suasana Pameran Sopo Siro Sopo Ingsun di Galeri Darmin Kopi / Sumber: Jepretan Wahyu Toveng



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miracle, Perenungan Pelukis Novandi Untuk Takdir Kehidupannya

Puisi-Puisi Dzakwan Ali

Komunitas Literasi Betawi (KLB) berpameran di Festival Sastra HB Jassin 2025